Ada Apa Dengan Taksi?

Ada Apa Dengan Taksi?

552
0
Ada Apa Dengan Taksi

sangpena.com | Ada Apa Dengan Taksi? Jakarta hari ini mencekam. Bukan karena bom Sarinah terjadi lagi, tetapi karena sweeping dan demo yang dilakukan driver taksi secara serentak dan mengepung jalan utama di Jakarta sejak pagi hingga sore. Sebenarnya aksi demo semacam ini sah-sah saja, mengingat aspirasi rakyat (termasuk driver – dan kita pada umumnya) memang seringkali memble saat sampai di tingkat pengambil kebijakan. Mungkin, perlu tindakan yang lebih besar dari sekedar aspirasi – demolah mereka.

Tuntutan para driver taksi dan berbagai layanan transportasi konvensional (ojek, bajai, dll) ini sebenarnya sederhana. Alasan perut, klasik bukan buatan. Ya, hanya karena alasan perut. Driver merasa sejak keberadaan transportasi berbasis aplikasi online (macam gojek, uber, grab) pendapatan mereka menurun drastis hingga 50% lebih – tentu bukan angka yang sedikit. Maka kompak, demolah mereka. Bersiaplah kami warga pendatang pada umumnya yang hidup dengan jalur transportasi umum.

Notifikasi kepada pengguna jalan raya sudah viral sejak jauh-jauh hari. Semua diingatkan agar menghindari jalur utama yang menjadi rute konvoi dan aksi demo. Saya sendiri mendapatkan pesan serupa di hampir semua grup (kantor ataupun grup-grup diskusi lain). Yap, saya siap!

Hari ini saya berangkat lebih awal dari biasanya – semacam antisipasi. Dan benar saja, baru beberapa halte busway dari Slipi Kemanggisan pemandangan mengerikan itu sudah tampak gejalanya: dari demo ada indikasi menjadi sweeping, anarkis dan perusakan. Depan gedung DPR menjadi lautan taksi, lumpuh total. Jalur yang harusnya masih diberikan space untuk angkutan umum turut buntu karena tindakan egois mereka yang menuntut aspirasi.

Mereka melakukan penghentian paksa kepada taksi yang masih membawa penumpang, diajak untuk turut aksi demo. Taksi yang tidak menurut akan dirusak, dinaiki, diinjak-injak, bahasa halusnya: dihancurkan. Hey! kalian sama-sama cari makan! Kami pengguna jalan juga ingin bekerja, mereka yang menarik penumpang juga mencari nafkah halal untuk keluarganya? tidak ada kewajiban kan untuk ikutan demo? šŸ˜®

Yang miris, saya melihat ada agenda balas dendam di sini, baik antar taksi yang berbeda Holding Company-nya. Sebut saja ada Express, Bluebird, dan lain-lain. Mereka komunal sekali, yang berbeda “seragam” dan ngotot narik akan dibuat bancakan rame-rame dijalan. Dikeluarkan penumpang dan sopirnya, dan lagi: dirusak.

Selain sweeping kepada Taksi yang beroperasi, banyak juga dari Sopir yang mencegat dan menganiaya para Ojek Online. Foto pengeroyokan yang beredar selama seharian ini menjadi bukti nyata. Bahkan ada salah satu driver Taksi yang dengan bangga membawa parang saat aksi demo. Ini demo? atau siap-siap perang?

Tindakan pengeroyokan akhirnya langsung memperoleh BALASAN di hari yang sama tadi. Lalu siapa yang dirugikan ke depannya? Penumpang! Kami masing-masing merasa tidak aman. Naik taksi takut dikeroyok ojek online. Naik ojek online bisa jadi dikeroyok taksi. Mana yang aman? Sementara dendam kalian besar kemungkinan akan berkepanjangan dan tak berkesudahan. Semua dirugikan – tidak ada kebanggaan dengan demo kalian.

Kemajuan inovasi teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dibendung, jika kalian tidak siap ya jangan bertarung. Ini zaman revolusi digital, semua jasa harus meningkatkan kualitas layanannya: cepat, mudah, aman dan berbasis teknologi. Rezeki sudah diaturNya sedemikian rupa, jangan menunggu kalau mau lebih. Bersaing sehat dengan meningkatkan kualitas, bukan adu otot!

Semoga ada kesadaran di tim level pengambil kebijakan perusahaan-perusahaan transportasi yang tidak siap bertarung. Ini zaman digital, bung!

__

Galeri kekejaman Jakarta hari ini:

Jakarta, 22 Maret 2016

LEAVE A REPLY