Apakah (Prestasi) Kita Butuh Stimulus?

Apakah (Prestasi) Kita Butuh Stimulus?

Orang-orang hebat bisa dibentuk dengan menjadikan mereka sadar bahwa mereka benar-benar memiliki kemampuan, bahkan dengan sedikit stimulus yang visioner, siapa saja bisa menjadi manusia yang tangguh.

674
1
Apakah Prestasi Kita Butuh Stimulus
Apakah Prestasi Kita Butuh Stimulus | picsoure: colourbox.com

sangpena.com | Apakah (Prestasi) Kita Butuh Stimulus? sebuah pertanyaan yang akan saya jawab dengan cerita berikut ini. Beberapa hari yang lalu, saya beruntung sempat diskusi dengan salah satu mantan senior di organisasi. Dalam diskusi hangat tersebut kami membahas banyak hal, mulai dari nostalgia sewaktu masih di organisasi, kesibukan saat ini, hingga berbagi ilmu baru. Benar-benar mencerahkan, sekalipun dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda – ternyata, namanya ilmu – selalu menarik untuk diketahui.

Dalam diskusi tersebut, ada satu hal yang benar-benar menarik untuk saya tuliskan di sini. Yaitu tentang stimulus, dorongan untuk melakukan sesuatu. Ternyata peran stimulus sangat besar, dan saya baru benar-benar sadar bahwa saya yang ada pada hari ini, tidak lepas dari stimulus orang-orang terdekat yang pola pikiran, perkataan dan karya yang menginspirasi saya pada waktu itu.

Dimulai dari buku pertama saya – sebuah antologi – bisa dibilang sebagai titik ledak yang menjadikan saya “merasa” bisa menulis, padahal bisa jadi mungkin tidak seandainya buku itu tidak pernah diterbitkan. Atau lebih parah, bisa jadi saya bukan yang seperti sekarang seandainya buku itu tidak pernah ada.

Sejak buku itu diterbitkan, saya dengan percaya diri meyakini bahwa saya punya kemampuan menulis, sehingga pada waktu SMK dulu, saya sempat berani membuat buletin untuk IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) bernama Mutiara Pena, sekalipun hanya seumur jagung. Bukan berarti tidak ada yang tersisa lho, alamat email pertama yang saya miliki sejak tahun 2008 adalah mutiara_pena [at] yahoo.com, sebuah saksi dan sejarah untuk buletin sederhana tersebut – sampai hari ini emailnya masih menjadi email utama yang digunakan.

Karena merasa bisa menulis, pada saat kuliah saya selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam dunia tulis, termasuk dalam membuat press release kegiatan Fakultas, kegiatan UKM, ataupun BEM. Puncaknya, karena (lagi-lagi) merasa bisa menulis, opini pertama saya “menjebol” Suara Merdeka pada saat masih semester 2, disusul kemudian berbagai tulisan lain di berbagai media – sebuah kesyukuran dan kebanggaan untuk Fakultas dan keluarga, karena saya saat itu masih “hijau” di kampus.

Masih banyak hal lain yang lahir karena optimisme terhadap kemampuan saya dalam menulis. Sampai beberapa hari yang lalu ada fakta yang mencengangkan dari senior saya tersebut. Ternyata beliau adalah editor, proof reader, dan semua hal yang berkaitan dalam teknis buku pertama saya tersebut. Saya baru tahu saat buku itu sudah dicetak dan dikirimkan di akhir tahun 2009.

Dalam pengakuannya, beliau menyampaikan bahwa saat menerima naskah-naskah dari Pelajar se-Indonesia tersebut, beliau sadar bahwa mereka yang mengirim tulisan ini punya potensi untuk berhasil di masa depan. Oleh karena itu beliau melakukan editing yang luar biasa agar semua naskah yang dibukukan benar-benar layak untuk dibaca.

Sambil bercanda beliau bertanya “Naskah yang dikirimkan sama tidak Mas dengan yang sudah cetak?” DEG! Saya baru sadar, benar-benar sadar bahwa naskah saya ternyata sudah dipoles sedemikian rupa agar layak dibaca. Dan karena ketidaksadaran saya itulah justru saya menjadi optimis sehebat-hebatnya di usia yang masih belia untuk belajar.

Dalam closing statement – istilahnya – beliau berkesimpulan, bahwa orang-orang hebat itu bisa dibentuk dengan menjadikan mereka sadar bahwa mereka benar-benar memiliki kemampuan, bahkan dengan sedikit stimulus yang visioner, siapa saja bisa menjadi manusia yang tangguh.

Saya saat ini, adalah kurang lebih hasil stimulus tentang menulis yang terjadi enam tahun silam. Sampai akhirnya bisa bekerja, dilamar sebuah perusahaan – lagi-lagi bukan karena disiplin ilmu kuliah, melainkan bidang jurnalistik dan social media yang saya ketahui.

Berikanlah mereka yang sedang belajar sebuah penghargaan dan dorongan, selanjutnya biar mereka yang menentukan. Akankah dorongan tersebut menjadi kekuatan, atau sebatas angin lalu. Stimulus yang baik akan menghasilkan manusia-manusia yang tangguh.

Terima kasih mas Ridho Al Hamdi (kandidat doktor Dortmund Universität, German).

Jakarta, langit teduh Al ‘Ashr

25 Agustus 2015

1 COMMENT

LEAVE A REPLY