Apologia Untuk Sebuah Nama, Ibu

Apologia Untuk Sebuah Nama, Ibu – Teriring sejuta rindu untuk Ibu, di pelosok Blora nan jauh di sana…

Semoga tulisan dan video ini menginspirasi, untuk kamu, untuk kita semuanya 🙂 Terima kasih Revolvere Project dan 3 orang luar biasa yang menggabungkan 3 hal istimewa menjadi karya: Sastra, Musik, Visual. Bang Fahd Pahdepie dengan Sastranya yang memikat hati, Fiersa Besar – musikus sendu dengan karyanya yang menawan, Futih Al Jihadi – semoga karya visualnya menjadi warisan yang berharga.


 

Akan kuceritakan kepadamu hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi barangkali mulai sering lupa kita sapa.

Dialah perempuan yang pertama kali mengajarkan kita kata-kata, bahasa, nada, dan apa saja yang membuat kita bahagia. Dialah perempuan yang pertama kali mengajarimu memakai sepatu atau memotong kuku.

Dialah perempuan yang suatu hari akan melihat kita melangkah pergi, dengan sepatu yang lain, meninggalkannya sendiri: menangis pilu bersama denyit engsel pintu.

Dialah Ibumu. Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-nama-Nya. Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia. Perempuan yang tak pernah dicemburui Tuhan untuk dicintai manusia jauh mendahuluiNya: Sebab mencintainya, juga berarti mencintai-Nya.

Di manakah dia sekarang?
    Apa kabar dia sekarang?
    Bagaimana perasaannya?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan untuknya, baginya pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada untukmu. Di pasar, di dapur, di kantor, di jalan, di terminal, di tempat suci, di manapun… baginya, segala tentangmu adalah doa: Tuhan, semoga anakku baik-baik saja!

“Ibu, aku ingin mainan baru!”

    “Ma, kenapa bajuku belum dicuci, sih?”

    “Mak, aku kan sudah bilang jangan terlalu sering telepon!”

    “Bun, aku tak sempat membelikan oleh-oleh buat Bunda.”

    “Bu, aku nggak bisa pulang lebaran ini. Waktunya sempit sekali.”

… seburuk apapun kau memperlakukannya, Ibu akan tetap bangun pagi untuk sembahyang: mendoakan segala yang terbaik untukmu. Lalu memasak—menyiapkan sarapan untukmu. Kemudian mencuci, menyetrika pakaianmu, melepasmu pergi dengan senyuman dan lambaian, mencemaskanmu, menunggumu pulang, menceritakan semua prestasimu pada teman-teman dan tetangganya, merawatmu ketika sakit, atau dengan lugu meminta maaf: “Maaf barangkali Ibu belum bisa membahagiakanmu.”

Dialah Ibu, perempuan yang selalu menatap kepergian kita dengan cemas—menunggu semua kepulangan kita dengan perasaan yang waswas. Dialah perempuan yang barangkali melupakan sakitnya sendiri untuk merawat sakit kita yang selalu terlalu manja.

Dialah Ibumu, perempuan suci yang telah dan akan selalu menyayangimu seperti laut melindungi terumbu. Meskipun kadang kau merasa tak bersamanya, cintanya selalu mengalir di seluruh jalan darahmu. Hingga habis usiamu.

Ya, inilah hikayat sebuah nama, tempat segala cinta bermula dan bermuara. Tuhan begitu menyayangi setiap Ibu, sehingga jika kita mendapatkan restunya, Tuhan berjanji merestuimu: Lapanglah segala jalan kebaikanmu, terbukalah semua pintu sorga untukmu.

Tetapi apabila Ibumu menangis karenamu dan kesedihan menetes sampai ke hatinya, sebagian malaikat akan mendoakan butiran-butiran air matanya, hingga menjadi kristal cahaya yang akan membuat sebagian malaikat lainnya merasa silau dan marah kepadamu!

Maka tersebab kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci: Tuhan tak melarang mereka tatkala menutup segala pintu kebaikan untukmu, menggugurkan semua pahala untuk menutup pintu-pintu sorga untukmu—hingga Ibu memaafkanmu.

Kenangkanlah, Ibu selalu mencintai kita seolah tak ada hari esok, sementara kita terus berjanji akan membahagiakannya besok atau nanti, jika sudah selesai dengan diri kita sendiri. Mungkin kita berjanji—diucapkan atau sekadar pada diri sendiri—akan membelikannya rumah megah, mobil mewah, atau memberangkatkannya naik haji. Tapi kapankah akan terjadi?

Entahlah, tidak ada yang tahu. Sementara ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana. Kita? Entahlah. Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.

Demikianlah hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa: IBU. Perempuan yang pertama kali mengajarkan kita dua kata sederhana, “terimakasih” dan “maaf”, untuk tak pernah kita ungkapkan dua kata sederhana itu kepadanya.

Akankah tiba saatnya kita mengenangnya hanya sebatas nama, sambil mengumpulkan satu per satu helai-helai rambutnya yang rontok dan keperakan—dari baju hangat peninggalannya?

Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat, sementara sesal tak akan sanggup mengembalikan lagi senyumnya—lembut matanya?

Ya, barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia, sebab kita juga bukan anak terbaik di dunia. Ibu tak pernah menghitung apapun untuk tulus mencintai kita. Maka tak perlu menghitung apapun, cintailah ia dengan sederhana—sejauh yang kita bisa.

Semoga kita belum terlambat! 🙂

Salam untuk ibumu, dari segenap anak yang dibesarkan dengan perjuangan luar biasa 🙂

Jakarta, 22 Desember 2015

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

1 Response

  1. Alris says:

    Doa kita yang terbaik selalu buat Ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *