Beruntung (Tidak) Hidup Di Ibu Kota

sangpena.com – Beberapa hari lagi tepat menuju penghujung bulan Desember, berarti beberapa hari lagi pula akan genap satu tahun hidup di ibu kota: Jakarta. Setahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk bertahan hidup di sini, oleh karena itu penting rasanya capaian satu tahun ini untuk dituliskan. Barangkali bermanfaat untuk dibaca, atau sekedar diketahui – tentu boleh setuju atau saran saya tidak setuju sama sekali.

Bagi yang biasa hidup dirantau, tentu setahun masih terhitung sebentar. Saya sendiri di panti asuhan selama tiga tahun, kemudian lanjut kuliah selama empat tahun. Tujuh tahun tersebut terhitung lama, tapi intensitas untuk pulang ke rumah terbilang rutin. Dua bulan atau satu bulan sekali saya pasti pulang untuk sekedar melepas rindu dengan ibu.

Berbeda saat di Jakarta, jadwal pulang harus dipersiapkan jauh-jauh hari: tiket, agenda di rumah, sampai list apa saja yang perlu dan tidak perlu dibawa, memang sedetail itu. Saat masih di Semarang, pulang ya tinggal pulang, toh naik kereta sekali pasti sampai.

Bagi kebanyakan orang, tinggal di Ibukota tentu sebuah pencapaian yang baik, karir yang lebih jelas, dompet lebih tebal dan lain sebagainya. Saya sendiri akan bilang hal tersebut benar adanya, tapi masih banyak hal lain yang tidak diketahui. Kesenjangan sosial masih sangat terasa di sini, di sepanjang perjalanan KRL (Commuter Line) misalnya kalau kita cermati, kanan kiri isinya rumah “gubuk” non permanen, seadanya. Sedangkan di luar jalur KRL tersebut gedung-gedung perkantoran menjulang tinggi, pusat perbelanjaan, bahkan pusat Pemerintahan.

Kriminalitas di sini juga masih terbilang tinggi, di Jakarta ada daerah-daerah tertentu yang sangat dilarang kita untuk tinggal di daerah tersebut karena tingginya tingkat kriminalitas, daerah yang istimewanya berisi “penjahat” semua, bahkan ada yang bilang hukum tidak bisa masuk ke daerah tersebut, daerah semacam ini jarang masuk ke dalam berita di layar kaca atau internet kita.

Kemudian kejahatan di kendaraan transportasi umum juga merupakan hal yang “biasa”, saya sendiri pernah hampir kecopetan sekali ketika naik bus umum. Sekalipun akhirnya selamat karena memilih melompat saat bus melambat. Ngeri. Sekedar informasi, kejahatan di kendaraan umum di sini benar-benar terorganisir dengan baik, tidak dilakukan satu orang, tetapi SATU TIM, fokus calon korban benar-benar dialihkan sampai dompet atau barang berharga lenyap dari saku atau tas yang kita kenakan! Jadi lengah sedikit saja, bersiap kehilangan barang berharga.

Ketertiban kendaraan umum di sini juga perlu jadi pertimbangan untuk yang hendak hijrah ke Ibukota. Tidak ada kendaraan umum (utamanya bus) yang mengenal kata pelan, semuanya serba cepat dan ngebut, kejar setoran. Belum lagi kondisinya yang sudah tidak layak tetapi masih tetap beroperasi. Keselamatan dan kenyamanan penumpang yang akhirnya jadi taruhan. Belum lama ini ada metromini yang ditabrak KRL karena sopir bus nekat nyerobot palang pintu kereta api yang telah ditutup, hampir semua penumpang tewas di tempat.

Kemacetan Jakarta | picsource: vivanews

Macet, masalah klasik yang mungkin sampai akhir zaman tidak akan pernah selesai di Jakarta, sekalipun berbagai sarana transportasi umum terus ditingkatkan kualitasnya. Belum lagi besarnya volume kendaraan dan urbanisasi dari desa ke kota yang semakin memperparah kondisi jalanan Jakarta. Kecepatan yang sama sekali tidak berimbang, banyaknya penduduk dibanding dengan kondisi jalan di Jakarta yang tidak bisa ditambah, sementara perbaikan selalu berimbas dengan macetnya di beberapa titik strategis.

Bagi orang baru yang masih tahun-tahun pertama tinggal di sini, punya motor sendiri sama sekali bukan pilihan bijak. Pertimbangan 1: keamanan yang hanya bisa kita gantungkan kepada Allah dan tukang parkir di jalan. Pertimbangan 2: lebih capek mengendarai motor saat macet dibandingkan naik transportasi umum. Pertimbangan 3: saya mudah mengantuk :D. Helm saja jadi target curian, apalagi motor πŸ™

Bagaimana dengan tempat tinggal dan kualitasnya? Jika berbicara tempat tinggal di sini, saya hanya menyampaikan rumus jawa: ono rego, ono rupo. Ada harga, ada kualitas yang diterima. Tempat tinggal yang wujudnya kost dengan harga Rp500.000 di sini, kondisinya akan sangat mengharukan jika di pusat kota, seadanya dan tidak ada jaminan keamanan. Jangan protes jika kehilangan barang di tempat tinggal semacam ini. Bandingkan dengan di Semarang misalnya, angka tersebut sudah mendapatkan kost cukup bagus, bahkan yang beruntung bisa dapat full AC.

Satu tambahan lagi yang harus diingat: banjir. Musim hujan adalah hal yang kurang menyenangkan di beberapa wilayah tertentu yang menjadi langganan banjir. Termasuk tempat tinggal saya saat ini, ada titik tertentu yang jika gerimis saja, akan ada luapan air 30-50cm di jalanan. Maka, selain persiapan payung, pastikan juga memilih tempat tinggal di daerah yang bebas banjir. Lebih baik mahal dikit tapi aman daripada terjangkau tapi selalu repot sepanjang musim hujan.

Jakarta masih memiliki daya tarikΒ  yang luar biasa bagi siapapun, perekonomian nasional bisa dibilang semuanya berpusat di sini. Pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat perputaran uang dalam nilai besar, sampai pusat garong-garong yang menyaru menjadi wakil rakyat juga ada di sini. Di sini basah bagi orang yang memiliki skill untuk mengais rezeki halal. Tapi memang harus dibayar dengan berbagai keadaan yang harus diterima dengan lapang dada. Toh memang rezeki kita di sini bukan? πŸ™‚ *termasuk saya.

Hidup di sini semuanya serba berbayar, tidak ada barang gratis kecuali ambil nafas. Besok-besok kalau ada orang yang mengklaim kepemilikan atas oksigen di bumi, barangkali kita juga harus bayar saat bernafas. Bersyukurlah yang masih tinggal dengan berbagai kenyamanan, semua serba terjangkau, jauh dari hingar bingar kemacetan dan bisa menikmati kesederhanaan dengan tetangga kanan kiri. Saya punya tetangga kosan yang berangkat kerja pagi-pagi pulang malam, sampai beliau pindah kost saya tidak pernah mengenal namanya.

Semoga suatu saat bisa sampai ke sini. Untuk saat ini syukuri dan nikmati dulu yang ada di hadapan kita masing-masing. Allah yang maha pemberi rezeki tidak mungkin menempatkan kita kelaparan di bumi manapun, jika kita benar-benar meyakininya. Sebaik-baiknya tempat adalah kita yang bisa bersyukur di sana πŸ™‚

Jakarta, 20 Desember 2015

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

6 Responses

  1. Penjaja Kata says:

    Bangsa kita memang bangsa yang luar biasa, bangsa yang ke-ibuan. Kita sangat menjunjung tinggi nama ibu dan menjadikan ibu sebagai pelita hidup. Alhasil, untuk merengkuh masa depan yang lebih baik, kita pun memilih ibu kota sebagai tempat perjuangan. πŸ™‚

    Salam kenal, bung.
    http://penjajakata.com/

  2. Anisa AE says:

    Saya juga merasa beruntung tidak hidup di sana. Hahaha.

  3. Arman says:

    di mana saja, yg penting tetap bertaqwa.. πŸ™‚

    ittaqullah haitsu ma kunta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog