Bila Saatnya Nanti

Bila Saatnya Nanti

487
0
bila-tiba-saatnya

sangpena.com – Bila saatnya nanti, kau dan aku akan kehilangan pengertian. Aku akan menangis tanpa air mata, sebab basahnya merembas ke dalam sukma. Mengairi seluruh telaga darah yang selama ini, merahnya indah dinyanyikan tembang pujian.

Tak ada kabut dalam jiwa, kau pun mudah mengerti segala apa yang kumaksud. Meski akhirnya, segala yang kusebut tidaklah menjadi yang dimaksud.

Saat itu, aku akan tetap berpikir, mungkin ada sedikit kabut dalam sukma, hingga kau mengira semua baikbaik saja. Dan ketika itu, kepadamu, aku tak pernah ingin hidangkan sungai di wajahku. Selamanya, wajahku adalah firdaus penghilang haus bagi jiwamu.

Hujan mengenal betul kemana hadirkan senyum. Tanah yang kehilangan wajah, pepohon yang tak lagi tunduk, berhenti memohon, sebab lapuk sudah ditanduk. Rintik akan menyapanya dalam deras terangkum detik. Dengan gerimis yang turun tak bersamaan. Menyapa genting dan ranting, sanggupkah dibasahi hujan yang berdatangan. Genting dan ranting tak akan pernah menolak gerimis. Tapi apalah kiranya, di balik genting dan ranting, ada saja yang tak siap menerima rintik. Sebabnya, tanah kehilangan wajah dan sungai berhenti melangkah.

Tanah dan sungai adalah kita, aku adalah tempatmu menjalani hidup, dan kau adalah kehidupanku. Suatu saat nanti, aku memang tak mengerti perihal keinginanmu. Tapi berhenti mengenalmu, adalah kematian cinta teramat awal. Dan aku berharap, tak perlulah sekalipun kau layarkan wajah yang bukan dirimu. Sebab itu menjadikanku tersesat mengenalmu. Ketika wajahmu menghilang, akupun hilang langkah. Kemana lagi aku akan pulang, ketika rumah tak lagi sediakan penawar lelah.

Kita memang hanya ingin mengerti, bahwa cinta tak pernah berujung. Membawa kaki dan hari memaksa tiba pada sebuah senja. Lalu perasaan, terengahengah menerka tanda yang sepertinya ada. Lahir rasa bahagia ketika kita menganggap ada sebuah tanda dan larut dalam menerka. Lahir rasa cinta, ketika mampu membaca tanda. Padahal tanda tak pernah ada, tapi kita begitu bahagia melahirkan makna dari tanda yang kita ciptakan sendiri.

Tanpa pernah terkira, kita hanya merasa sudah saling kenal, meski ternyata baru sekadar menapaki sungai yang dangkal. Airnya yang tenang, mengelabui kita seakan sungainya dalam. Selama ini kita tenang tanpa pernah saling memberi riak, meski akhirnya kita hanya mengenal sekadar pangkal. Berlarutlarut menjelajahi pinggiran sungai, dengan sakit batu kerikil mengail telapak kaki, dan kita enggan lanjut ke dalam. Pikir kita, barulah di batas sungai tapi sakit telah mengigit. Bilanya kita lanjut ke dalam, ku takut mati menjadi sambutan

Bila saatnya nanti, kau dan aku kehilangan pengertian. Kita hanya perlu diam. Membiarkan hati yang selama ini bungkam, terbenam pada sudut lain. Seperti kita yang tak selamanya sama, kau melihat senja di barat, dan aku menemukan senja di matamu. Begitulah kita seharusnya, ketika kau menemukan diriku dari sebuah perkenalan, maka aku menemukanmu dalam sebuah kebersamaan. Percayalah, aku akan belajar mengenalmu seperti kepercayaan yang kubenamkan dimatamu. Tak pernah hilang, sebab tenggelam dan terbitnya, ada pada matamu.

Bila saatnya nanti, yang terucap bukanlah yang ingin kuungkap. Kuharap kau tetap tabah mencaricariku dalam kumpulan perjalanan. Sebab yang terpendam, adalah kerendahan diriku yang terbenam, dan tak ingin kuterbitkan diufuk wajah ini. Padahal kau, adalah kekasihku yang mencintai senja dan fajar, kuingin menjadi keduanya yang muncul dalam benakmu.

Bila saatnya kita hanya bisa diam. Dan kikuk seketika sebab makna tak terungkap dengan baik. Janganlah berhenti memberi perhatian.

Kau dan aku, adalah perjalanan untuk saling kenal. Dan cinta adalah kita yang ingin terus lebih mengenal. Sebab mengenalmu, tak pernah selesai, meski ajal telah tergenggam.

Bila saatnya nanti nanti, kita tak bisa saling kenal. Cukuplah sebut namaku pada batinmu. Selamanya, kita akan sabar untuk mengenal.

 

LEAVE A REPLY