Dakwah Social Media, Akankah Bersatu?

sangpena.com | Ada sebuah cameo gambar menarik yang beberapa waktu lalu diposting Instagram @dakwahsocmed. Karya dari kartunis “Muslim Show” ini menceritakan tentang 2 peristiwa, sekelompok orang yang ribut di atas rakit yang tidak bisa berlayar akibat layarnya terkoyak. Mereka mempersoalkan tentang siapa yang lebih pantas memimpin dan saling menyalahkan. Mereka terus ribut tanpa memperhatikan layarnya yang terkoyak. Sedangkan beberapa yang lain”hanya” menonton dan memberikan komentar.

Tentu dalam kondisi tersebut rakit tak akan berlayar sampai kapanpun, bahkan bisa tenggelam. Di gambar yang lain, kondisi yang sama tetapi diberikan solusi. Yaitu dengan saling menyatukan pakaian yang mereka pakai. Mereka bersama membentuk sebuah layar. Sebuah layar yang dibuat dengan komposisi baju yang berbeda; ukuran, warna, jenis bahan. Mereka dengan rela memberikan pakaiannya untuk dikaitkan bersama dan dijadikan sebuah layar. Akhirnya rakit pun itu melanjutkan perjalanan dngan semua orangnya yang tersenyum puas.

Gambar tersebut mungkin benar mewakili keadaan kita saat ini. Di saat dakwah kita lebih sering diributkan soal kecil, dan cenderung dibesar-besarkan. Beda manhaj, pergerakan, berpartai atau tidak, bahkan saling mengafirkan jika tidak satu pandangan dengan dirinya.

Dakwah ini memang terjal sekali. Penuh Onak dan Duri kata Sahabat Ali RA.

Maka sepatutnya kita juga menyadari, bahwa perbedaan itu Sunatullah. Jika memang tidak bisa disatukan, setidaknya bisa dipahamkan untuk tasamuh dan bersatu dalam tujuan yang sama. Dengan syarat, tidak melanggar syariat dan pendapat jumhur ulama, maka sewajarnya kita melihat adanya perbedaan itu adalah tak lebih sebagai sebuah sunnatullah, tak perlu dibesarkan menjadi awal petaka retaknya dakwah.

Bagaimana dengan dakwah via sosial media? Keberadaan media membawa angin segar bagi para dai, sebuah cita-cita untuk bersatu pun bisa gapai. Wasilah Dakwah terbaru ini pun membawa angin segar. Bahwa perbedaan pun bisa disatukan dengan keberadaan dan majunya teknologi, sekalipun di sisi lain, seperti sebuah mata pisau, ada kemungkinan atau dampak buruk dari majunya teknologi tersebut. Maka, kesadaran untuk menjadikan sosial media sebagai sarana dakwah adalah sebuah keharusan.

Apa solusinya?

Jujur #AkuCintaIslam memberikan pelajaran dan solusi bagi saya pribadi. #AkuCintaIslam adalah forum admin akun Islami terbesar di Indonesia. Kita dari berbeda daerah. Dari Wilayah Barat sampai Wilayah Timur Indonesia ada di sini. Lintas Umur pun diarungi. Profesi dari mahasiswa sampai seorang pengajar pun hadir disini. Soal pergerakan? dari kawan-kawan yang aktif di NU, Muhammadiyyah, Tarbiyah, HTI, Salafy dan pergerakkan lainnya bisa bersatu di forum ini. Kita punya satu cita-cita. Apa itu? JIKA KITA TIDAK BISA BERSATU DI DUNIA NYATA, MARI KITA BERSATU DI DUNIA MAYA. Dengan kontribusi nyata yang diharapkan bisa dirasakan di dunia nyata.

Dan Alhamdulillah, #AkuCintaIslam Produktif dalam mengawal kegiatan-kegiatan Islam di seluruh dunia via sosial media, khususnya Indonesia. Bahwa isu Polwan Berjilbab kami hadirkan di dunia maya untuk membuat kesadaran ke masyarakat Indonesia bahwa hak berjilbab itu boleh dimiliki siapa saja, termasuk Polwan. Kami menginisiasi banyak pengumpulan dana, dari dalam maupun luar negeri.

Alhamdulillah pernah menghimpun dana sampai ratusan juta untuk saudara-saudara kita di Palestina MURNI dari sosial media! Yang terakhir, disaat media Islam dibredel oleh pemerintah, kami pun menginisiasi gerakan #KembalikanMediaIslam via sosial media  dan berujung pada keputusan yang melegakan umat Islam.

Bahwa kami sadar, kami hanya sekelompok manusia yang tak luput dari kesalahan. Kami hanya ingin dakwah Islam bisa bersatu, meskipun baru di dunia maya. Jika tidak bisa bergabung dalam satu forum, maka kita berfastabiqul khairat dengan satu tujuan, yaitu Lillah. Bukan ingin followers yang banyak, buat film, ingin terkenal dan sukses berjualan. Tapi lebih dari itu, benar-benar lebih dari sekedar yang penilaiannya tampak di dunia saja.

Semoga kita semakin diistiqomahkan dalam berdakwah, dijauhkan rasa riya pada diri kita dan dikuatkan jamaah ini.Aamiin Ya Rabb. Allahu ‘alam.

@bungdiki
Koord #AkuCintaIslam

Diedit seperlunya tanpa merubah substansi 😉

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

2 Responses

  1. Ibnu Katab says:

    Analogi kapal layar itu memang bagus, hanya saja kurang jelas dalam merealisasikannya.

    Realisasinya: semestinya semua kelompok islam (yg berlainan baju) meletakkan bajunya masing2 dan disatukan, untuk kemudian mengangkat orang yg paling pandai diantara mereka sebagai Nakoda, sedangkan yg lainnya sebagai wakilnya. Dengan demikian kapal layar dapat dijalankan tanpa adanya keributan.

    Intinya yg dijadikan penilaian adalah ILMU-nya, bukan kelompoknya.

  2. ibnu katab says:

    Setelah bersatu maka hendaknya yg dijadikan tujuan adalah penegakan syariat islam, yaitu mengganti sistem demokrasi menjadi sistem kerajaan Islam.

Leave a Reply to ibnu katab Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *