Diversity in Unity – Keragaman dalam Kesatuan (Bali)

Diversity in Unity – Keragaman dalam Kesatuan (Bali)

Pulau Dewata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun asing dari berbagai mancanegara. Selain karena keelokan alamnya yang masih cukup terawat dan dikelola dengan baik, juga kekayaan budaya yang luar biasa terjaga.

552
0
Diversity in Unity - Keragaman dalam Kesatuan (Bali)
Diversity in Unity - Keragaman dalam Kesatuan (Bali) | picsource: lse.ac.id

sangpena.com – Pulau Dewata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun asing dari berbagai mancanegara. Selain karena keelokan alamnya yang masih cukup terawat dan dikelola dengan baik, juga kekayaan budaya yang luar biasa terjaga.

Sepanjang jalan kita akan melihat kanan kiri di masing-masing rumah, bahkan ruko sekalipun, tersedia semacam tempat sesaji berbentuk bangunan kecil (menurut guide sepanjang perjalanan kami hari ini, adalah tempat untuk beribadah masing-masing rumah).

Hal yang mungkin tidak selalu kita temui ketika berada di kawasan pulau jawa, keunikannya. Karena terkadang pribadi ini merasa, banyak Jawa ilang Jawane, yang rantauan pulang-pulang ngomong “lu gue” juga ada, atau dari generasi mudanya yang mulai kurang mengetahui hal-hal tentang Jawa dari masa ke masa (terkikis modernisasi). Contoh sederhana: tidak banyak yang tahu hitungan seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dll.

Menjelang waktu maghrib sore tadi, ada pemandangan yang tak kalah menarik. Menurut guide kami, mereka sedang ibadah dan hal seperti ini adalah hal yang lumrah dilakukan setiap hari. Apa yang membuatnya menarik? Sangat terasa suasana sakralnya, para ummat Hindu di sini berbondong-bondong dengan pakaian yang hampir seragam, udeng putih, dresscode putih dan tertib. Jumlahnya fantastis, bisa dibilang hampir ratusan. Bukan hanya diikuti oleh orang tua, anak-anak usia SD juga ikut, dirias sedemikian rupa sehingga seperti hendak pentas menari.

Jika ini sebuah rutinitas harian yang terus dilakukan turun temurun, betapa hebatnya mereka memegang budaya dan agama beriringan (koreksi jika saya salah). Mereka mampu melakukan SETIAP HARI. Sedangkan saat melihat ummat Islam yang shalat jama’ah masih ogah, shalat Jum’at saja yang kadang dirasa wajib dibandingkan lima waktu, dll. Senyum kecut, bukan agama Islam yang salah, mungkin pemahaman ummatnya yang belum komprehensif dalam menjalankan agama.

Agama masih seperti ritual bahkan rutinitas yang mulai dieksploitasi kepentingan pasar, padahal agama yang sempurna ini bisa menjadi way of life.

Kemudian masjid, susah sekali menemukan masjid besar di sini. Boleh dibilang perbandingannya mungkin 1:20. Kalaupun menemukan masjid, umumnya sekilas tidak akan terlihat seperti sebuah masjid. Mungkin karena aturan atau apa saya kurang tau.

Terakhir, terlepas apapun yang ditemui di sini. Saya masih ingat ingat kata-kata Pak Hajriyanto Tohari beberapa tahun silam. Indonesia itu negara yang “segmented pluralism” keragaman yang tersegmentasi. Di sini contohnya.

Semoga tetap damai berdampingan, membangun bersama, menghormati bersama tanpa harus menjatuhkan.

Bersyukur berkesempatan di sini sampai beberapa hari ke depan. Keragaman inilah yang menjadikan kita bernama Indonesia dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya.

Selamat istirahat.

Legian, 9:58pm WITA.

LEAVE A REPLY