Jangan Ada Aylan Lagi yang Terkorban

Jangan Ada Aylan Lagi yang Terkorban

Solusi bagi krisis Suriah seharusnya komprehensif, tak hanya berkutat pada akibat saja. Berilah makan dan minum bagi mereka yang lapar dan dahaga. Berilah tempat berlindung bagi mereka yang tuna wisma. Ulurkan selimut dan pakaian untuk mereka yang kedinginan.

800
0
Jangan Ada Aylan Lagi yang Terkorban
Jangan Ada Aylan Lagi yang Terkorban

sangpena.com – KIBLAT – Jangan Ada Aylan Lagi yang Terkorban – Seperti bangun mendadak dari tidur lelap, dunia tiba-tiba heboh ketika foto jasad kaku Aylan bersaudara menyebar. Dua bocah bersaudara pengungsi dari Suriah itu menjadi korban bersama pengungsi lainnya ketika perahu karet yang mereka tumpangi menuju Yunani, terbalik. Jasad Aylan beserta kakak dan ibunya ditemukan terdampar di sebuah pantai provinsi Mugla, Turki.

Aylan, mungkin “hanya” sebuah gunung es dari sebuah cerita ngeri dan memilukan yang menyelimuti keseharian pengungsi Suriah. Sebelum tenggelamnya perahu karet tersebut, ada jutaan Aylan lain yang terpaksa menjalani kehidupan kelam.

Di antara mereka ada yang menggigil setiap hari melawan ganasnya musim dingin di tenda-tenda pengungsian. Sebagiannya lagi, berkutat dengan lapar dan dahaga. Tak ada mainan, pupus pula pendidikan. Hak sebagai anak-anak terenggut oleh nafsu durjana para penguasa, dan bisunya dunia. Sebagian lagi harus tersengal-sengal saat sekarat, terpapar racun kimia yang ditebar bom rezim Bashar Asad.

Jadi, tanpa mengurangi rasa duka atas tragedi tenggelamnya pengungsi Suriah di atas, Aylan sesungguhnya hanya potret kecil penderitaan akibat kezaliman para penguasa. Ribuan imigran Suriah yang menyebrang ke Eropa, namun jutaan penduduk Suriah lainnya memilih bertahan di negerinya, berjihad melawan tirani Asad.

Jihad adalah sebuah ibadah sekaligus wasilah untuk mencegah kezaliman. Untuk keperluan ibadah itulah, jutaan Aylan-Aylan lain masih bertahan menemani orangtua mereka di bawah hujan bom dan timah panas. Ada yang benar-benar hidup bersama Mujahidin, dan ada pula yang “dititipkan” di kamp pengungsian di negara tetangga Suriah.

Wasilah inilah yang hari ini dilupakan banyak orang. Dunia lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya merupakan akibat, bukan penyebab. Publik sedang ramai mengepel lantai basah, dan cenderung abai terhadap atap yang sedang bocor.

Media internasional sibuk meliput pro-kontra Eropa menyambut para imigran. Sementara miliaran dolar yang mengalir dari dunia Islam semenjak konflik Suriah meletus, nyaris tak terdengar. Aliran itulah yang membuat listrik di rumah sakit darurat di Suriah masih bisa menyala—meski sangat terbatas—sehingga rakyat yang sakit dan terluka dapat terobati.

Aliran itu pulalah yang menghangatkan perut-perut kecil jutaan sahabat Aylan di tengah ganasnya musim dingin di kamp-kamp pengungsian. Aliran juga yang membuat diantara puing-puing bangunan masih ada tawa dan canda anak-anak kecil saat bermain dan belajar, menimba ilmu sekenanya.

Parahnya, dunia lupa terhadap upaya-upaya jahat untuk memutus aliran yang sesungguhnya menjadi tumpuan harapan rakyat Suriah tersebut. Kini, upaya penggalangan dana untuk membeli makanan, pakaian dan obat-obatan bagi rakyat Suriah sedang dijegal. Ada LSM yang rekeningnya diblokir dengan alasan terkait organisasi teroris. Sementara tak sedikit pula aktivis kemanusiaan yang ditahan dengan dalih yang sama-sama tak jelas.

Solusi bagi krisis Suriah seharusnya komprehensif, tak hanya berkutat pada akibat saja. Berilah makan dan minum bagi mereka yang lapar dan dahaga. Berilah tempat berlindung bagi mereka yang tuna wisma. Ulurkan selimut dan pakaian untuk mereka yang kedinginan. Namun jangan lupa, hukumlah seberat-beratnya rezim yang membuat mereka lapar, kedinginan dan kehilangan tempat tinggal. Hukum pula apa dan siapapun—entah produk konstitusi, corong media, bahkan negara—yang mencoba menghalang-halangi sampainya bantuan kemanusiaan bagi rakyat Suriah.

LEAVE A REPLY