Kenangan, Tentang Masa Kecil: Rumah (I)

Kenangan, Tentang Masa Kecil: Rumah (I)

1747
2

sangpena.com – Rumah itu tidak pernah simetris, bentuknya tidak pernah sempurna sejak saya lahir.

Jika mengulang masa kecil dulu dengan ukuran saya saat ini, untuk berlarian di dalam rumah mungkin hanya perlu 5-10 langkah dari bagian paling depan (pintu) hinggu dinding rumah paling belakang. Rumah yang kecil untuk ukuran saat itu, apalagi jika dibandingkan dengan umumnya rumah yang ada saat ini. Mungkin akan lebih tepat disebut kandang ternak.

Rumah itu hanya memiliki penerangan dari lampu minyak, jika siang tidak perlu lampu, karena genteng di atas memang sudah lapuk, bolong, retak, tidak perlu diganti – belum ada uang – lagipula bukan skala utama untuk hidup keluarga saya saat itu. Urusan menyambung nyawa jauh lebih penting dibandingkan memperhatikan kelayakan rumah.

Penerangan malam hari akan dipastikan padam kalau saya, dua kakak saya, dan satu adik saya sudah lelap. Bapak dan ibu biasa bercakap tanpa pencahayaan. Entah apa yang dibahas beliau saat itu, lupa. Ingatan saya di usia SD belum tajam untuk mengingat keseluruhan cerita.

Jika kepanasan, jangan pernah mencari kipas angin karena listrik belum masuk, beruntung beberapa orang kaya yang memiliki aki – barang mahal dan mewah untuk ukuran saat itu. Lagipula rumah ini sudah demikian sempurna dengan dinding anyaman bambu, sirkulasi angin akan demikian santai menyejukkan siapa saja yang di dalam rumah.

Masalahnya, musim hujan selalu menjadi kondisi yang mengerikan bagi rumah ini. Banjir lokal tidak akan pernah terhindarkan. Jika musim hujan sedang pada puncaknya, akan menjadi pemandangan yang biasa di dalam rumah: gelas, ember, baskom dan apa saja yang bisa diisi air akan bertebaran di lantai rumah – tanah – untuk menahan isi air yang tumpah dari genteng kami yang mengharukan.

Apalagi kalau hujan disertai angin, di dalam rumah sangat tidak disarankan. Rumah ini tidak akan bertahan lama dalam kondisi demikian. Maka solusinya, kami pindah sejenak jika hujan – nomaden – ke tetangga kanan kiri.

Tersenyum. Hufft…

Saya tidak pernah mengira akan menuliskannya kembali, karena bahkan dulu bisa sekolah saja menjadi sesuatu yang mahal untuk diperoleh. Dari empat bersaudara, ketiganya paling mentok SMP, bahkan kakak perempuan saya yang pertama hanya lulus SD. Saya berkesempatan sampai sarjana karena beruntung dengan sambung menyambung beasiswa dari jenjang ke jenjang. Sebuah kesyukuran dan kebahagiaan untuk keluarga kecil saya. Sekalipun bapak tidak pernah melihat saya lulus SMP, karena beliau harus berpulang ketika saya baru saja menginjak semester pertama kelas 2 SMP. Semoga beliau bahagia dan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya.

===

Rumah ini sekarang sudah tidak ada, hanya kenangannya saja yang tersisa. Tidak ada dokumentasi satupun. Rumah kecil dengan dua pintu, 1 jendela, dinding bambu dan genteng lapuk yang miring kondisinya tinggal tersisa memori. 14 tahun silam atau di akhir saya SD rumah itu diganti dengan yang lebih baik, tapi selamanya cerita di dalamnya tidak akan terhenti. Turun temurun akan saya wariskan kepada anak, cucu dan generasi seterusnya. (bersambung…)

Jakarta, 19 Nopember 2015 | 11:11 pm

SHARE
Previous articleLink Exchange
Next articleKuliah, Jangan Cuma Ngampus!
Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

2 COMMENTS

  1. Orang-orang yang mengalami hidup keras di masa dulu insyaa Allah akan mendapatkan keberhasilan di masa mendatang. Tenang aja ono koncone kok, zaman ku masih pake lampu petromax yg dipompa, lampu minyak, jendela kawat ditambah anjing liar hilir mudik kalau malam hari.

    Tapi bersyukur hidup di masa itu meski cukup berat, karena masih merasakan keindahan alam yang tidak bisa dirasakan generasi sekarang

LEAVE A REPLY