[Kisah] KH. Ahmad Dahlan Memukul Kentongan

sangpena.com – Bagi kader Muhammadiyah atau yang pernah bersekolah di Muhammadiyah, nama KH. Ahmad Dahlan tentu bukanlah sosok yang asing. Pendiri Muhammadiyah yang mendapat gelar pahlawan nasional tersebut adalah sosok yang luar biasa, kontribusinya bagi modernisasi pendidikan dan Islam di Indonesia kala itu masih bisa kita rasakan hingga detik ini, terbukti dengan banyaknya amal usaha Muhammadiyah di berbagai bidang dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Saya pribadi baru “mengenal” beliau secara bertahap saat mulai ber-IPM di SMK. Pelan tapi pasti sosok tersebut menjadi dekat, seiring dengan kedekatan saya dengan organisasi pelajar yang pada akhirnya membawa saya sampai sejauh ini. Maka, kesyukuran saya kepada IPM sebagai organisasi paling dasar yang membentuk saya – adalah sama besarnya dengan rasa terima kasih saya kepada beliau, KH. Ahmad Dahlan yang telah melakukan perubahan luar biasa bagi Indonesia, bahkan dunia lewat didirikannya persyarikatan Muhammadiyah.

Sebuah kisah singkat berikut ini barangkali bisa menjadi penyegar, penegur dan penegar bagi setiap kader Muda yang tengah lengah dan lesu memajukan Persyarikatan. Kita saat ini sudah jauh lebih mudah – dibandingkan beliau saat itu. Kita ini tinggal menjadi melangsungkan, menyempurnakan – dibandingkan beliau yang harus dikucilkan dan dianggap aneh bagi orang kebanyakan saat itu. Kita harus semangat, kalau bukan kita yang menjadi penjaga “rumah” ini, siapa lagi? Jangan sampai kita baru berisik dan berkoar saat “rumah” kita diserobot oleh “oknum” partai nganu, dan lain-lain. Selamat membaca 🙂

Kejadiannya di sekitar tahun 1921

Suatu siang KHA Dahlan memukul kentongan mengundang penduduk Kauman ke rumahnya. Penduduk Kauman berduyun-duyun ke rumahnya. Setelah banyak orang berkumpul di rumahnya, KHA Dahlan pidato yang isinya menyatakan bahwa kas Muhammadiyah kosong. Sementara guru-guru Muhammadiyah belum digaji. Muhammadiyah memerlukan uang kira-kira 500 gulden untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolah Muhammadiyah.

Karena itu KHA Dahlan menyatakan melelang seluruh barang-barang yang ada di rumahnya. Pakaian, almari, meja kursi, tempat-tempat tidur, jam dinding, jam berdiri, lampu-lampu dan lain-lain. Ringkasnya KHA Dahlan melelang semua barang-barang miliknya itu dan uang hasil lelang itu seluruhnya akan dipakai untuk membiayai sekolah Muhammadiyah, khususnya untuk menggaji guru dan karyawan.

Para penduduk Kauman itu terbengong-bengong setelah mendengar penjelasan KHA Dahlan. Murid-murid KHA Dahlan yang ikut pada pengajian Thaharatul Qulub sama terharu melihat semangat pengorbanan KHA Dahlan, dan mereka saling berpandangan satu sama lain, berbisik-bisik satu sama lain. Singkat cerita, penduduk Kauman itu khususnya para juragan yang menjadi anggota kelompok pengajian Tharatul Qulub itu, kemudian berebut membeli barang-barang KHA Dahlan.

Ada yang membeli jasnya, ada yang membeli sarungnya, ada yang membeli jamnya, almari, meja kursi dsb. Dalam waktu singkat semua barang milik KHA Dahlan itu habis terlelang dan terkumpul uang lebih dari 4.000 gulden. Anehnya setelah selesai lelangan itu tidak ada seorang pun yang membawa arang-barang KHA Dahlan. Mereka lalu sama pamit mau pulang.

Tentu saja KHA Dahlan heran, mengapa mereka tidak mau membawa barang-barang yang sudah dilelang. KHA Dahlan berseru, ”Saudara-saudara, silahkan barang-barang yang sudah sampeyan lelang itu saudara bawa pulang. Atau nanti saya antar?”

Jawab mereka, “Tidak usah Kiai. Barang-barang itu biar di sini saja, semua kami kembalikan pada Kiai.”

“Lalu uang yang terkumpul ini bagaimana?“ tanya KHA Dahlan.

Kata salah seorang dari mereka, “Ya untuk Muhammadiyah. Kan Kiai tadi mengatakan Muhammadiyah perlu dana untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolahnya?”

“Ya, tapi kebutuhan Muhammadiyah hanya sekitar 500 gulden, ini dana yang terkumpul lebih dari 4000 gulden. Lalu sisanya bagaimana?” tanya KHA Dahlan.

Jawab orang itu, “Ya biar dimasukkan saja ke kas Muhammadiyah.


 

Drs. Sukriyanto AR. M.Hum. (Suara Muhammadiyah No. 13/98/1-15 Juni 2013)

Ditulis ulang di Ibukota, 21 Desember 2015

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog