Lamaran Ke Lima Ratus

sangpena.com – Cerpen, Lamaran Ke Lima Ratus – oleh: Yus Winardi.

Sebagai sarjana dengan lulusan terbaik tentu tak ada yang lebih membanggakan dari itu. Namanya diucapkan paling depan dan seru. Pidato kelulusan pun juga diberikan kepadanya. Bayangkan nilainya tak ada yang C. minimal B, itupun tak lebih dari jumlah seluruh jari di tangan. Tentu, indeks nilainya hampir menyentuh angka 4 dan itu luar biasa di sepanjang sejarah jurusan dan fakultasnya. Kurang meyakinkan apalagi?

Kalau untuk hitung-hitungan persyaratan melamar kerja, sudah tentu banyak perusahaan yang berlomba-lomba menampungnya. Nah, nilainya yang tinggi itu barang tentu sudah meyakinkan siapapun untuk menerimanya dengan senang hati. Asset berharga perusahaan dengan kecerdasan yang luar biasa. Kesopanan pun tak kurang darinya. Secara fisik dan rupa, tentu ia sedap dipandang oleh siapa pun. Ia adalah sosok yang mengikuti mode kekinian dengan fasihnya. Kurang meyakinkan apalagi?

Nah, ini yang biasanya diminta oleh beberapa perusahaan untuk salah satu syarat diterima dan menjadi karyawan. Pengalaman organisasi! Tentu, untuk hal ini ia cakap sekali. Beberapa kali ia menjabat ketua organisasi intra kampus. Di luar itu, ia juga aktif di organisasi ekstra kampus. Kemampuan debat dan pidatonya tak usah diragukan lagi. Nomor satu. Bahkan banyak karibnya yang memuji gaya pidatonya seperti presiden pertama. Jaringan pun jangan Tanya lagi. Di sana, di sini, semua mengenalnya dan mengakui kemampuannya. Kawan atau lawan, segan padanya. Itu masih ditambah oleh ketrampilannya mengoperasikan computer dengan jenis software tertentu yang banyak orang tak punya kemampuan untuk mengoperasikannya. Kurang meyakinkan apalagi?

Doa? Ah, siang malam ia dengan takzim berdoa. Mengulang-ngulang doa yang sama agar secepatnya diberi pekerjaan dan rejeki yang baik. Bukankah doa seperti mengayuh sepeda dan suatu saat akan sampai ke tujuan? Begitu kira-kira yang sering ia dengar. Ia yakin akan hal itu.

Dan semakin lama ia membacai dan menyuntuki info lowongan kerja. Semakin terbayang di depannya pekerjaan yang bakal dikerjakannya. Pegawai bank, pegawai asuransi, dosen, pegawai administrasi atau pegawai bagian hubungan masyarakat? Syukur-syukur jadi supervisor, manager atau direktur. Ah, bahagianya. Dibayanginya bahwa setiap hari ia masuk kerja dengan jam tertentu, mesti mengerjakan pekerjaan tertentu, pulang di waktu yang tentu sudah ditentukan dan semoga gajinya melebihi bayangannya sendiri. Amin.

Coba bayangkan, pekerjaan mapan, wajah rupawan, punya rumah mewah dan kendaraan jerman, dan itu cocok jika bersanding dengan pasangan yang cantik, bukan? Aih, impian semua orang, bukan? Dan demikian, ia seperti membakari dirinya sendiri dengan bayangan-bayangan serupa eskrim impian bagi bocah-bocah yang kehausan. Aih, nikmatnya.

Namun hingga lamaran ke empat ratus sembilan puluh sembilan, pekerjaan yang diimpikannya seperti layang-layang yang lenggak lenggok terterpa angin. Memang beberapakali beberapa perusahaan merespon lamarannya dan memberikan kesempatan untuk wawancara dan tes. Namun beberapa kali juga ia mesti kecewa karena tak ada panggilan lebih lanjut. Pun jika sudah diterima, ia kecewa dengan gaji yang ditawarkan. Saya sarjana dengan nilai tertinggi hanya digaji seperti bayaran seorang kuli? Apa kata orang nanti? Saya sarjana tapi penghasilan kok tak lebih baik dari pedagang kaki lima? Tidak! Harga dirinya terluka.

Dan seperti kebiasaan sesudah bergelar sarjana itu, ia selalu setia menunggui Koran terbitan sabtu-minggu. Barangkali ada lowongan yang cocok. Lowongan yang akan ditujunya dengan kembali menulis surat lamaran, menulis riwayat hidup dengan pengalaman pendidikan dan organisasi, menempel poto, lalu mengirimnya ke kantor pos terdekat dengan perangko kilat seperti empat ratus Sembilan puluh sembilannya lainnya. Empat ratus Sembilan puluh Sembilan lamaran yang menghabiskan uang, waktu, kertas dan kemungkinan-kemungkinan lain yang tak terbayangkan di kepalanya. Berharap lamaran itu menjadi lamaran yang terakhir yang ia tulis. Ya, yang terakhir!

___

Tulisan ini menginspirasi kamu? Jangan lupa dibagikan ya! 🙂

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog