Menjadi Pemimpin
picsource: anecdote

sangpena.com – Mendiskusikan tentang kepemimpinan memang selalu menjadi hal menarik, apalagi bagi generasi muda yang melek akan keadaan terkini dan visioner di masa depan. Keberadaan kita sebagai generasi pembaharu memang selalu dituntut untuk terus melakukan interaksi bermanfaat kepada manusia
yang lain.

Ngomong-ngomong tentang pentingnya kepemimpinan sama seperti membicarakan pentingnya generasi muda saat ini di masa depan. Meminjam istilah KH. Zainudin MZ, sesungguhnya untuk melihat bangsa ini di masa depan, cukup dengan melihat kondisi generasi mudanya saat ini. Generasi muda saat ini adalah miniatur Indonesia di masa selanjutnya.

Di pundak generasi muda inilah masa depan dibebankan: Indonesia dengan segala potensinya yang luar biasa untuk peradaban. Berbagai lembaran dalam catatan sejarah telah mengabadikan gilang gemilang kontribusi para pemuda bahkan sejak negara ini belum “nyata” di mata dunia. Entah berapa ribu nama tak tercatat yang turut memperjuangkan menuju kedaulatan yang kita rasakan saat ini.

Tentu semua ingat, salah satu kalimat Presiden pertama Indonesia yang luar biasa: “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!” ~ Soekarno. Begitu pentingnya peran pemuda, sampai-sampai 10 pemuda yang berkualitas mampu mengalahkan ribuan generasi tua yang waktunya diteruskan estafet perjuangan mereka.

Pemuda, dalam mata rantai yang panjang di masyarakat menempati posisi yang paling sentral dalam artian peran utamanya sebagai pelestari budaya, perjuangan, pelopor hingga perintis pembaharuan melalui karya dan dedikasinya untuk kemajuan bangsa ~ Adhyaksa Dault.

Kembali berbicara tentang kepemimpinan – sesuatu yang abstrak – tetapi akan terasa hasilnya jika sudah diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Memimpin juga suatu seni untuk mempengaruhi sedangkan pemimpin adalah peran dalam sebuah sistem tertentu dengan kekuasaan tertentu – yang ada batas-batasnya.

Oleh karena itu sebuah keharusan agar generasi muda sedini mungkin membentuk kepribadian diri sebagai seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki keahlian serta mampu memberikan pengaruh ke arah kebaikan bagi orang lain. Maka, sebenarnya istilah kepemimpinan tidak melulu melekat kepada penguasa atau pemimpin organisasi, karena pada dasarnya setiap orang bisa dan berhak memilikinya!

Sederhananya, untuk memiliki jiwa kepemimpinan atau menjadi pemimpin yang handal kita bisa memulainya dengan hal-hal kecil: menyelesaikan tugas dan amanah dengan baik disertai evaluasi untuk perbaikan selanjutnya. Hal ini berlaku bagi yang masih menyelesaikan proses pendidikan atau yang sudah berkeluarga.

Belajar menjadi pemimpin tidak pernah habis masanya, karena kita memang sudah ditetapkan untuk menjadi pemimpin sejak kita lahir hingga meninggal dunia ~ minimal untuk diri sendiri.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya.

Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.”
(HR. Bukhari)

Terkhusus untuk laki-laki, bersiaplah untuk membangun pondasi yang lebih tangguh. Karena amanah kalian akan lebih besar pada akhirnya. Jadi, selamat berjuang dan terus berjuang! 🙂

Semarang, 19 November 2016

LEAVE A REPLY