Merajut Makna, Menginsyafi Kehilangan

sangpena.com | Merajut Makna, Menginsyafi Kehilangan “Hidup adalah rangkaian pengalaman tentang kehilangan” seorang motivator ternama pernah menyampaikan kalimat demikian. Kehilangan, tentu semua orang pernah mengalami – dan – akan mengalami, entah hari ini, besok, lusa atau di waktu yang tidak pernah kita duga.

Dari kehilangan barang-barang yang kita miliki, kesempatan, hingga kehilangan orang yang sangat kita cintai. Manusia memang harus menginsyafi, kepemilikan kita atas dunia ini memang sementara – tidak ada keabadian. Maka kehilangan adalah suatu hal yang tidak mungkin untuk dihindari.

Sakit, sedih – tentu akan menjadi suatu hal yang manusiawi saat kehilangan. Apalagi kehilangan seseorang yang kita cintai. Hilang sudah kesempatan untuk bercakap, untuk bercanda, untuk menatap dengan teduh dan manja, menyentuh dan merasakan kasih sayangnya lebih dekat.

Bukankah sejatinya waktu telah mengajarkan kita tentang kehilangan? Setiap detik yang berlalu adalah kehilangan. Kemarin adalah kehilangan: waktu, kesempatan, kebahagiaan. Maka, jangan pernah membiarkan detik-detik kita berlalu tanpa bahagia, tanpa membahagiakan orang lain. Membahagiakan orang-orang tercinta di sekitar kita. Membahagiakan diri sendiri.

Saat kita masih kecil, rapuhnya diri menjadikan kita gampang sekali menangis saat satu mainan hilang. Kemudian kembali ceria ketika diganti mainan yang lain. Demikian seterusnya, menangis sesaat lalu tertawa beberapa saat – siklus kehidupan manusia hingga akhir hayatnya.

Rahasia waktu memang tidak pernah kita ketahui sebelum dia datang. Mengambil satu per satu atas klaim kepemilikan kita berupa titipan di dunia. Silih berganti orang-orang berlalu dalam kehidupan kita, ada yang datang dan pergi, ada yang selamanya pergi.

Hal yang sama dalam kacamata orang lain – suatu saat mereka akan melihat kita pergi pada akhirnya. Melihat kita tinggal kenangan dalam album-album kusam, menceritakan kita seperlunya, lalu perlahan dunia akan lupa, sebagaimana kita sendiri tidak bisa menceritakan banyak tentang kakek buyut kita.

Demikianlah rahasia waktu, dia selalu mengajarkan kehilangan. Maka manusia terbaik bukan dia yang tidak bersedih atau tidak menangis saat kehilangan. Tetapi yang terbaik adalah manusia yang menginsyafi, tidak ada keabadian di dunia. Menginsyafi keberadaan nyawa kita adalah untuk kebermanfaatan, adalah titipan yang pada akhirnya akan dikembalikan.

Satu hal, mereka yang pergi sebenarnya tidak benar-benar pergi. Mereka tetaplah sebuah kisah yang hidup dalam tiap sudut jiwa-jiwa kita. Nasehat-nasehatnya akan menjadi penerang dalam kehidupan kita. Teladan-teladan mereka akan kita ingat sepanjang massa – hingga lunas dan habis usia kita.

Tetap tangguh saudaraku, tetap perkasa sebagaimana kami mengenalmu. Allah mencintai hamba-hambaNya yang taat. Yakinlah, beliau saat ini tersenyum dan berkata padamu dari sana “Jaga – bahagiakan ibu dan adikmu, sebagaimana bapak akan melakukannya sekuat tenaga untuk mereka”.

Sebuah tulisan untuk saudaraku, dalam dekap ukhuwah. Maaf tidak bisa mengiring kepergian Ayahanda di saat-saat terakhir pemakaman 🙁

Jakarta, 23 Januari 2016
Dalam rintik hujan dan air mata

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

1 Response

  1. Alris says:

    Kehilangan mungkin ujian bagi setiap pribadi dan keluarga. Tak perlu meratapi kehilangan. Karena hak yang punya untuk mengambil kembali kepunyaan-Nya.
    salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog