Niatlah Berhaji Selama Anda Tidak Mampu!

Niatlah Berhaji Selama Anda Tidak Mampu!

Anda semua yang saat ini belum menunaikan ibadah haji, tak apa-apa, setiap orang memiliki ukuran kemampuan yang berbeda-beda. Dan mampu bukan sekadar materi atau fisik. Tetapi mampu untuk menumbangkan ego dalam diri sendiri, mengalahkan pikiran-pikiran dan perasaan yang menunda Anda untuk pergi ke baitullah

746
1
Niatlah Berhaji Selama Anda Tidak Mampu!
Niatlah Berhaji Selama Anda Tidak Mampu! - rmol.co

sangpena.com – Niatlah Berhaji Selama Anda Tidak Mampu! – oleh Fahd Pahdepie.

Sekitar tiga bulan lalu, ketika masih di tinggal di Melbourne, saya mengirim pesan singkat kepada ibu saya, “I, mulai hari ini saya berniat ingin berangkat menunaikan ibadah haji. Saya akan mendaftar segera.”

Tak lama setelah saya mengirimkan pesan singkat itu, ibu saya langsung menelepon. Dengan suara hampir menangis Ibu saya mengungkapkan kebahagiaannya. “Alhamdulillah kalau kamu sudah ada niat. Ii pikir kamu tak tertarik untuk menunaikan ibadah haji,” katanya.

Saya hanya tertawa mendengar ucapan ibu saya. Sejak mahasiswa, saya memang sering mencandainya bahwa saya tak suka dengan pemerintah Arab Saudi yang membangun hotel-hotel dan mall di sekitar ‘baitullah’ secara membabi buta. Dengan alasan ‘demi kenyamanan tamu Allah’ yang sebenarnya kalkulasi ekonomi pariwisata belaka. Bagi saya, pemerintah Arab Saudi sudah terlalu banyak menghancurkan situs-situs penting sejarah Islam. Bahkan, karena saya belajar politik internasional, sedikit-banyak mengerti bahwa beberapa kebijakan luar negeri Arab Saudi justru merugikan Islam dan kaum Muslim. Negara petrodollar tersebut, di luar apapun yang baik tentangnya, menyimpan banyak kebobrokan yang membuat saya kecewa.

***

“Saya akan ke sana untuk mengunjungi baitullah. Bukan untuk berlibur ke Arab Saudi.” Jawab saya pada Ii, ibu saya, “Bukan kebetulan Allah menempatkan Ka’bah di Makkah, kan, I? mungkin orang-orang seperti saya harus mengalahkan dirinya sendiri agar tetap menunaikan ibadah haji.” Sambung saya.

Selanjutnya obrolan kami menjadi sentimentil. Ii menceritakan pengalaman dan perjuangannya sebelum bisa menunaikan ibadah haji ke Makkah dan Madinah. Ia juga menceritakan bagaimana peristiwa haji adalah tentang mengalahkan diri sendiri, hijrah untuk mengalahkan nalar, kalkulasi rasio, dan logika-logika yang kita imani sehari-hari. Pada banyak kesempatan, saya hanya bisa mendengarkan. Saya memang ingin mendengarkan.

“Apa yang pada akhirnya membuatmu punya niat yang kuat untuk menunaikan ibadah haji?” Tanya Ii. Penasaran.

Saya terdiam beberapa saat. “Saya bertemu seseorang,” Jawab saya. Pendek.

“Siapa? Di mana?” Ii mengejar saya dengan pertanyaan lainnya.

“Saya tidak tahu siapa orang itu, tidak tahu namanya, tidak tahu dari mana. Tapi semua yang dikatakannya menyelinap ke dalam batin…”

Dari balik telepon, suara Ii mendadak pelan dan serak, “Ikuti terus panggilan itu,” katanya.

***

Saya bertemu orang ini di Australia. Ia yang saya tidak tahu namanya, berdasarkan gaya bicara dan berpakaiannya, kemungkinan besar berasal dari Pakistan. Hari itu Jumat dan seperti biasa masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar Clayton, Victoria, menunaikan shalat Jumat di sebuah ‘community center’ di Southern Cross, Mulgrave. Dengan satu dan lain alasan yang sudah diatur Allah, orang ini diberi kesempatann untuk berkhutbah pada hari itu, menggantikan khatib sesungguhnya yang berhalangan hadir… Dan di sanalah ia mengajak semua orang agar setidaknya memiliki niat untuk berhaji. “Jika waktunya sudah tiba dan segalanya sudah siap,” katanya, “Telah jatuh syarat mampu bagimu untuk menunaikan ibadah haji.”

Saya terdiam mendengarkan ajakan itu. Pikiran saya berkecamuk.

“Banyak orang yang memiliki segalanya untuk bisa berhaji. Harta, waktu, kesehatan, kekuatan… Tetapi karena tak memiliki niat, ia tak pernah berangkat haji. Tidak sedikit orang yang tak punya apapun untuk bisa menunaikan ibadah haji, namun karena ia memiliki niat yang kuat tak ada seorangpun yang bisa menghentikannya untuk mencium ka’bah di baitullah…”

Saya terpesona dengan kalimat-kalimatnya yang sederhana. Tetapi yang paling menggetarkan saya adalah bahwa tak ada sedikitpun dari dirinya, tak ada sedetikpun dari ajakannya, yang mengandung sindiran atau ‘ancaman’ kepada mereka yang belum tergerak hatinya seperti saya.

“Anda semua yang saat ini belum menunaikan ibadah haji, tak apa-apa, setiap orang memiliki ukuran kemampuan yang berbeda-beda. Dan mampu bukan sekadar materi atau fisik. Tetapi mampu untuk menumbangkan ego dalam diri sendiri, mengalahkan pikiran-pikiran dan perasaan yang menunda Anda untuk pergi ke baitullah,” ujarnya sambil tersenyum, “Mudah-mudahan Allah membukakan hati Anda untuk setidaknya memiliki keinginan menunaikan rukun Islam yang terakhir itu… Semoga Allah memampukan Anda semua.” Tutupnya.

Selanjutnya kami menunaikan shalat Jumat. Sepanjang shalat, pikiran saya tak bisa khusuk. Pertanyaan dan pernyataan saling bersahutan di dalam diri saya. Mengapa saya belum memiliki niat yang kuat untuk menunaikan ibadah haji? Mengapa masih banyak pertimbangan-pertimbangan yang menunda saya untuk mengambil langkah pertama agar saya bisa menyempurnakan rukun Islam? Tapi di sanalah, di rakaat terakhir shalat itu, di sujud terakhir, saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa mulai saat itu saya meniatkan diri untuk berhaji.

Selepas shalat, saya mendatangi orang yang saya tak tahu namanya tadi. Saya menyalaminya. Ia mencium pipi kiri dan kanan saya.

“Ah, kita pernah bertemu sebelumnya!” Ujarnya setelah melihat wajah saya. Meski berbicara dalam Bahasa Inggris, logat Pakistannya begitu kental.

“Oh, ya?” Saya terheran-heran. “Saya rasa kita tak pernah bertemu sebelumnya,” jawab saya.

Ia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, wajah Anda familiar bagi saya,” katanya.

Saya tersenyum saja. “Brother, thank you for your khutbah today,” ujar saya, “It was really meaningful for me. From today, I made promise to myself, I want to perform hajj to ‘baitullah’ soon.”

“Alhamdulillah!” Ia langsung memeluk saya. “Semoga Allah memampukan dan memudahkan segalanya buat Anda,” ujarnya.

“Untuk sekarang, saya tak tahu bagaimana harus melakukannya. Di negara saya, bukan hanya biayanya mahal tetapi juga waktu tunggunya yang lama. Saya mungkin ingin pergi haji tahun ini juga dan bisa membayar semuanya, tetapi ada hal-hal lain yang tak memungkinkan saya untuk bisa melakukannya. Jika mendaftar tahun ini saja, paling cepat tujuh tahun lagi saya baru bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Dan dalam tujuh tahun itu, kadang-kadang kita tak tahu kebutuhan apa saja yang harus kita penuhi, bukan? Mungkin rumah, biaya pendidikan anak, dan lainnya.” Saya berusaha menjelaskan.

Orang itu tersenyum. “Selama Anda memiliki niat, Allah akan membuat Anda mampu.” Jawabnya pendek. “Saya mengerti maksud Anda. Juga soal kuota haji yang setiap negara berbeda-beda. Saya mengerti orang muda seperti Anda punya banyak impian yang ingin diwujudkan. Milikilah mimpi-mimpi itu. Anda bisa menjadi orang terkaya di dunia lalu berniat naik haji. Apa bedanya dengan niat itu Anda simpan di awal? Anda bisa naik haji dan menjadi orang terkaya di dunia, kan? Orang bisa punya mobil, rumah yang mewah, atau apapun, kemudian berhaji. Salahkah jika Anda berhaji lalu setelah itu Anda memiliki semuanya? Setahu saya, Islam tak pernah melarangnya selama kita menempuh semuanya dengan cara yang benar.”

Saya mengangguk-angguk. Ada semacam panggilan yang menggedor-gedor dari dalam diri saya.

“Niatkanlah berhaji selama Anda tidak mampu!” Tutup orang itu.

***

1 COMMENT

  1. Setuju sekali, banyak sekali muslim yang sudah mampu belum tergugah untuk melaksanakan haji. nampaknya tekad pergi haji adalah merupakan hidayah juga. Salam Kenal Mas Alefiko..

Leave a Reply to Mas Eko Cancel reply