Pelajaran Dibalik Perkataan

sangpena.com – “BERKATA” Siapakah di dunia yang belum pernah melakukannya? Semua orang di dunia ini pasti bisa berkata. Orang yang tidak bisa berbicarapun bisa berkata, entah berkata melalui bahasa tubuhnya atau bisa juga berkata melalui pandangan matanya. Yang menjadi pembeda di antara orang-orang yang diberi kemampuan berkata adalah mereka berkata yang baik atau buruk.

Tidak sedikit dari kita yang acapkali tidak memperhatikan perkataan, layak kah diucapkan? Sampai saat ini banyak masalah yang disebabkan hanya karena sebuah perkataan. Ada yang sampai dibawa ke meja hijau bahkan ada juga yang membunuh temannya karena dia tidak suka dengan perkataan yang diucapkan oleh temannya itu.

Maka benar jika ada peribahasa lidah itu lebih tajam daripada pisau. Jika luka karena pisau hanya dengan berapa bulan bahkan ada yang membutuhkan beberapa hari saja untuk dapat sembuh, maka berbeda halnya luka yang disebabkan oleh lidah, bisa jadi akan terus menyakitkan meski telah dimaafkan namun luka karena perkataan akan tetap membekas.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47).
Jika kita mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir kita harus menjaga setiap perkataan kita. Kita harus berusaha untuk berkata yang baik-baik saja.

Namun sayangnya banyak yang mengaku beriman kepada Allah dan  hari akhir tapi tidak memperhatikan perkatannya. Bahkan di akhir zaman ini berkata buruk dan kotor itu sudah menjadi hal biasa. Karena sudah menjadi hal lumrah bagi mereka perkataan-perkataan yang buruk juga kotor sehingga mereka menganggapnya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu diresahkan. Hal ini terjadi tidak hanya pada para remaja, karena faktanya tidak sedikit para orang tuapun belum bisa menjaga perkatannya. Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya?

Ketika seseorang berkata buruk, sebenarnya ia sedang memperlihatkan kebodohan dirinya sendiri karena sesungguhya jika dari huruf A-Z jika dirangkai menjadi sebuah kata maka akan menjadi kata-kata baik yang jumlahnya tak terhingga karena itu jika banyak kata-kata baik yang dapat dirangkainya mengapa dia harus menggunakan kata-kata yang buruk?

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, hlm. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata  pula, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga, sedangkan diberi hanya satu mulut, supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sering kali orang menyesal pada kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan itu lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataann­ya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataann­ya.”

“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya.”

Dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Seseorang mati karena tersandung lidahnya. Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya. Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya. Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”

Maka dari itu jika ingin selamat berkatalah yang baik dan tinggalkanlah perkataan-perkataan yang kotor lagi buruk karena perkataanmu adalah kualitas dirimu. Tunjukkan siapa kamu!

Oleh: Esqi Noor Lisa | Kader PD IPM Banyumas

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

1 Response

  1. Hermiadi says:

    Setuju sekali, semoga saya selalu bisa menjaga perkataan-perkataan saya dalam berbicara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *