Yang (Ber)kurang Dalam Lebaran Ini…

Ucapan Idul Fitri

sangpena.com – Berhubung masih suasana idul fitri, saya secara pribadi mengucapkan Taqoballahu minnaa wa minkum, mohon maaf lahir batin jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan selama bersocial media ataupun – termasuk – tulisan yang muncul di sangpena.com baik sengaja ataupun tidak sengaja. Bagi teman-teman yang tidak merayakan idul fitri, mari turut menjadikan momentum ini sebagai bangkitnya persatuan, tidak hanya di lisan tetapi juga berwujud dalam tindakan.

Segala bentuk upaya sistematis belah bambu antar golongan pada dasarnya tidak akan berpengaruh signifikan jika kita sendiri sudah bersatu dan mengerti bahwa fitrah Indonesia ini beragam – jangan mau dikotak-kotakan! Apalagi akhir-akhir ini kita rasakan adanya tindakan dari pihak tertentu untuk menyudutkan agama tertentu supaya identik dengan terorisme, ingat teror tidak memiliki agama! Selalu ada grand design dibalik itu semua. Apa itu? ditunggu saja – makaru wa makarAllah 🙂 #NoOffense.

Kembali bicara soal lebaran ya, adakah yang berkurang dari lebaran tahun ini? atau mungkin ada yang bertambah? cucunya? hehe, atau momongannya? Saya pribadi merasakan ada yang berkurang dari lebaran tahun ini, 🙁

Usia yang berkurang, tapi kebaikan …

Usia sudah tak lagi remaja, tetapi kadang kesadaran bahwa ada amanah berat di usia ini: kebaikan, kebermanfaatan, dan lain-lain masih sangat rendah. Bukankah merugi jika hari ini tidak lebih baik dari kemarin? bahkan jikapun sama dengan kondisi hari kemarin, kita masih layak disebut merugi. Sementara jatah waktu dan usia terus saja berkurang.

Kadang sadarnya pas sudah usia tak lagi muda, sedangkan tenaga sudah mulai berkurang, waktu mulai terbatas, daya dan upaya tidak lagi se-lincah muda. Semoga kita dihindarkan dari keadaan seperti ini, sekalipun kondisi jiwa naik turun oleh keadaan — tetap disemogakan — agar kebaikan terus bertumbuh bersama dengan bertambahnya usia kita.

Sanak saudara

Usia adalah sebuah rahasia, kadang yang tua dan sakit-sakitan berharap maut datang segera tapi tak kunjung tiba. Tak jarang, maut bertindak sebaliknya. Muda belia sudah diambilnya, tanpa sakit tanpa pertanda. Kita ini pada dasarnya juga sedang dalam antrian – entah panjang atau pendek – menuju ke sana.

Ramadhan dan syawal kali ini, beberapa tetangga dan kerabat sudah berpulang. Sedihnya terasa, karena kita hanya berjumpa setahun sekali — itupun setahun yang lalu 🙁 dan saat berkunjung tahun ini, hanya kabar duka yang didapat, karena mereka telah kembali ke Yang Maha Cipta. Alangkah baik seandainya kita mampu mengagendakan silaturahim kerabat tak menunggu lebaran, karena tidak ada jaminan mereka — termasuk kita — bisa bersua dengan lebaran berikutnya.

Lebaran dulu dan sekarang…

Menjadi bagian dari generasi 90an yang besar di pedesaan adalah kebahagiaan tersendiri – dan kesedihan tersendiri saat melihat perubahan 180 derajat dengan kondisi saat ini. Di era 2000an, saat teknologi tak secanggih saat ini, lebaran adalah momentum yang sangat luar biasa. Berkumpul. Bahagia dengan keluarga tercinta.

Tetapi makin ke sini, rasa-rasanya makin hambar saja. Lebaran adalah seremonial singkat yang mulai berkurang nilai kekeluargaan dan kebersamaannya dengan masyarakat.

Jika dulu orang berbondong-bondong datang ke rumah, kemudian bercengkerama dalam waktu yang lama. Sekarang beda halnya, banyak yang datang tetapi tak lebih dari sekedar salaman -formalitas- lalu ditutup dengan foto-foto selfie.

Jika dulu orang mudik untuk melepas rindu dan berjumpa keluarga tercinta, sekarang orang mudik untuk menunjukkan taraf sukses hidup di kota besar, bahkan tak sedikit yang gaya bicara berubah, sopan santun berkurang, haruskah kita bertindak tanduk seperti itu di kampung halaman yang gemah ripah loh jinawi ini? 🙂

Berapa persen dari jiwamu yang sudah diambil keasliannya oleh ibu kota, wahai pemuda dan pemudi yang beberapa tahun silam masih medok dan lugu?

Kurang kamu…

Ya, lebaran ini masih kurang genap :’D . Silakan ditafsirkan sendiri, hanya orang-orang sakti yang paham kondisi seperti ini :v. Mungkinkah masih berkesempatan untuk “lengkap dan genap” di lebaran tahun depan? Kita tunggu saja kemana arah angin menunjuk untuk berlabuh 🙂

Btw, sekali lagi selamat berkumpul dengan keluarga ya. Mohon dimaafkan jika ada salah kata dalam postingan ini. Tulisan ini semata opini pribadi kok, based on true story 🙂

Blora, 30 Juni 2017
Angin musim timur siap sambut kemarau

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog