Alhamdulillah, Akhirnya Resign Juga!

sangpena.com – Rasanya seperti mimpi ketika tadi sore saya mengucapkan perpisahan ke teman-teman satu kantor, ada yang benar-benar tidak percaya bahwa saya akan meninggalkan perusahaan secepat ini – tanpa diduga oleh kebanyakan orang. Melepas zona nyaman yang tentu tidak semua orang mampu dan berani melakukannya.

Bahkan sebagian teman saya di luar kantor dan beberapa saudara mengatakan saya “gila” melepas ini semua. Ada lagi yang meremehkan, “habis ini trus jadi apa?” dan berbagai sikap psimis lain. Hehe.

Hidup ini tentu hadir dengan pilihan-pilihan, beberapa mengambil jalur nyaman dan bisa diduga endingnya, beberapa yang lain memilih jalur perjuangan yang penuh kejutan. Kebetulan saya tipikal orang yang kedua – tidak terlalu betah berlama di zona nyaman, menyukai tantangan dan tentunya ingin memaksimalkan usia produktif di masa muda ini dengan bermanfaat bagi orang lain – tidak melulu di perusahaan. Kata dosen saya, “saya ini memang tidak bisa berdiam dan menyukai tantangan” – sepertinya ada benarnya, tepatnya saya ini pecicilan di banyak bidang, hehe.

Secara hitungan hari, saya per hari ini sudah tercatat sekitar satu setengah tahun menjadi karyawan di Head Office PT OPPO Indonesia, belum terlalu lama sebenarnya tapi tidak tepat juga jika disebut sebentar. Selama kurun tersebut berbagai pengalaman dan kesempatan untuk belajar sudah saya rasakan betul manfaatnya. Bekal selama di sini pula yang menjadikan saya berani mengambil “resiko” untuk keluar dan membangun cita-cita yang saya yakini ke depannya.

Suasana kerja nyaman, teman-teman satu tim yang akrab hingga berbagai benefit selama bekerja yang mungkin tidak akan saya temukan di perusahaan yang lain. Tapi, sekali lagi – hidup selalu menghadirkan berbagai pilihan untuk kita yakini dan jalankan. Dan saya memutuskan untuk resign lalu membangun “karya” saya sendiri ke depannya.

Niat dan Alasan Resign

Jika beberapa orang berfikir saya resign hanya melalui pertimbangan satu dua hari, maka dipastikan itu salah besar. Saya sudah memperhitungkan kapan resign bahkan sejak saya masuk pertama kali. Karena saya berkeyakinan – semua akan resign pada waktunya. Tinggal menunggu “kode” atau tanda kapan tepatnya pilihan itu harus dieksekusi. Allah selalu punya rahasia – barangkali satu setengah tahun inilah rahasiaNya – sisanya- mulai hari ini, adalah jalan-jalan lain yang harus ditapak dengan penuh peluh dan juga disemogakan: keberkahan!

Memiliki tim yang dianggap paling solid dari semua tim lain dari satu divisi adalah sebuah kebanggaan dan sebenarnya ada rasa “sungkan” juga untuk mengajukan resign. Ditambah – karena tim yang solid – keakraban antar orang dari satu tim menjadi sangat mantap. Hampir-hampir tidak ada jarak yang terlalu kaku dengan pimpinan – malah sesekali saya menganggap kelewat batas jika harus bercanda ke pimpinan yang berlebihan, hahaha. Cukup ikut tertawa saja jika berbagai keusilan itu sudah terjadi di depan mata.

Sebenarnya, secara sederhana alasan utama saya resign adalah ingin bermanfaat. Bermanfaat lebih luas di usia yang masih muda dan bertenaga ini. Saya beberapa kali bertemu orang-orang yang usianya senior dan mengaku menyesal karena masa mudanya berlalu dengan biasa-biasa saja, habis dari satu tugas ke tugas yang lain – sampai mengenal tetangga kanan kiri saja sulit karena akhir pekan sudah kembali disibukkan dari satu agenda ke agenda yang lain. Dan ketika kesadaran itu tiba, semuanya menjadi sangat terlambat: badan sudah mulai mudah lelah karena usia, waktu yang mulai terbatas karena kewajiban untuk keluarga, hingga pertimbangan-pertimbangan lain.

Saya menolak jika harus menua dengan keadaan seperti ini. Saya sendiri selalu teringat sebuah kekuatan magis dan pesona kalimat dari penulis kesayangan saya ini: Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.

Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh mengunjungi beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana menemukan arahku. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun. Aku ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut diterkam dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan saripati hidup!!Andrea Hirata.

Entah kekuatan apa yang tersimpan dalam kata-kata itu, tapi setiap selesai membacanya, rasanya kita benar-benar tidak boleh berhenti berkarya dan berpuas diri dengan menjadi biasa – apa adanya.

Apa Rencana Ke Depan?

Rangkuman pertanyaan paling penting dari semua keluarga yang sudah saya hubungi dan minta restu untuk resign adalah “apa rencana ke depan?”. Untungnya jawaban saya sudah banyak, malah antriΒ  harus pilih yang mana. Beberapa rencana ke depan yang sudah mulai saya konsepkan sambil eksekusi setidaknya bisa saya tuliskan dalam ide-ide di bawah ini:

1. Lanjut Studi Pasca Sarjana

Di awal-awal bekerja selepas kuliah tahun 2014, saya tidak terlalu minat dengan yang namanya pasca sarjana. Tapi pertemuan dengan ayahanda-ayahanda senior beberapa waktu yang lalu benar-benar mengubah itu semua. Ternyata studi S1 saja tidak cukup, dibutuhkan generasi penerus dan pelopor yang lebih tangguh, punya skill dan tentunya pendidikan yang baik, karena kalau cuma cari S1 di Indonesia ini sudah “turah-turah”, nganggur dan kurang nilai jualnya, maka wajib kuliah lagi dan ilmunya dikembalikan untuk membangun ummat.

Selain alasan di atas, sebenarnya keinginan untuk kuliah lagi ini semacam “terprovokasi (baca: motivasi), sedulur lanang saya Wahyu Imam Santoso yang tahun ini resmi menyandang gelar mahasiswa pasca sarjana Universitas Diponegoro. Iya, masih gelar mahasiswa, lha wong belum benar-benar diwisuda. Dulu kami satu paket “nggembel” untuk bisa kuliah bermodal tampang pas-pasan dan dompet “hidup segan mati tak mau” saat berangkat Semarang. Nyatanya bisa sampai sarjana, harusnya sekarang kami juga bisa lagi untuk merebut kemenangan pasca sarjana. Bersama!

2. Fokus Bisnis dan Berpenghasilan di Digital

Berpenghasilan tidak melulu harus bekerja konvensional – berangkat pagi pulang petang – badan capek banyak kerokan. Banyak peluang bisnis yang terhampar saat kita sudah terkoneksi dengan internet, mulai yang sifatnya freelancer, hingga yang sifatnya tetap tapi bisa remote dari manapun kita tinggal – tentunya jika kita memiliki kemampuan menyelesaikan pekerjaan semacam ini dan jangan lupa akses internet yang baik.

Pertengahan tahun kemarin saya menemukan – lebih tepatnya tidak sengaja –Β  bahwa ternyata internet menyediakan sumber penghasilan yang bahkan tidak terbatas – tergantung effortnya seberapa. Dari sinilah keyakinan saya untuk resign dan fokus menjadi lebih kuat, karena pada dasarnya saya sudah mencicipi hasil dari internet ketika mengerjakannya dalam posisi part time. Part time saja berpenghasilan, apalagi full time ke sana?

3. Belajar di Pondok Pesantren

Entah dorongan apa yang menjadikan ada jawaban ini saat lebaran kemarin, tapi saya begitu ringan menjawab jika setelah resign akan mondok ke pesantren – apapun ilmu yang diajarkan. Malah saya ada rencana mondok sekaligus membangun kesadaran digital ke pondok tersebut, jadi dibangunlah webnya, socmednya, dll. Jadi santri tidak melulu harus ketinggalan teknologi – pikiran saya begitu. Jika jalan ini juga dimudahkan semoga tidak ada bentrok antara keinginan pertama hingga ke tiga, “mereka” bisa akur dan sinergi untuk membuat saya lebih bermanfaat sebagai manusia.

4. MenikahΒ  :p

Alhamdulillah, saya normal. Jadi wajar jika keinginan ini muncul sebagai bagian fitrah saya sebagai manusia :D. Mengikuti teladan dan jejak Rasulullah, usia saya saat ini memang pas: 25 tahun. Tetapi ternyata menikah tidak melulu tentang cukupnya usia. Ada banyak kesiapan yang harus dimiliki, tidak melulu keinginan berlandaskan syahwat semata yang menipu.

Karena ini ibadah yang “menyempurnakan” maka sejatinya lebih baik jika saya (dan pembaca semua) turut mempersiapkan diri sebelum kejadian bersejarah tersebut terjadi – sebuah perjanjian yang amat kukuh yang diabadikan dalam Al Qur’an. Bagaimana bisa ceritanya kita menjemput perjanjian kukuh dengan persiapan biasa? Tentu harus menjadi diri yang matang.

Dalam sebuah grup WhatsApp tadi pagi, ada nasehat yang baik tentang pernikahan, adalah jangan terlalu gegabah untuk pengen menikah. Menikah tidak sebatas berdasarkan “pengen” atau karena melihat kawan dan saudara yang sudah terlebih dahulu menikah.

Terlalu dangkal jika menikah hanya karena pengen. Sementara tanggung jawab di dalam pernikahan adalah menyangkut masa depan, tanggung jawab untuk memimpin bahtera keluarga, hingga menyatukan dua insan yang pasti akan berbeda di dalam dan sebagian hal.

Lhoh, kenapa jadi nasehat pernikahan? hahaha, ampun bang. Tiga atau empat alasan di atas yang membuat saya mantap ingin mandiri, berdiri dan berkeringat untuk menuai rezeki halal dari jalan yang dibangun di luar status sebagai karyawan. Bukan karena sombong dan merasa mampu ~ tetapi memang rezeki tidak selalu menghampiri ketika kita berdiam dan berpuas diri, ada kalanya mimpi-mimpi beserta rezeki itu harus dijemput dengan gagah berani.

Semoga semua hal baik akan dimudahkan, dan yang disemogakan bisa menjadi bagian dari perjuangan. Kita memang bukan siapa-siapa jika tidak mewakili pikiran dan karya kita sendiri ~ sangpena.

Sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasakan) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar β€œ

(S Al-Baqarah, ayat 155)

Jakarta, 26 September 2016

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

17 Responses

  1. deni WK says:

    Oke terus semangat ya

  2. Mufa says:

    Alhamdulillah setelah baca tulisan ini, saya dapat PENCERAHAN. Terimakasih Mas. Baarokalloh.

  3. Dony Satya says:

    Mantap gan tulisannya…mungkin kalo berhasil di SS saya juga mau ikuti jejak agan biar bisa fulltime di SS…saya sudah jadi contributor di SS baru mau sebulan karena baca postingan agan di grup facebook…tp saya lupa nama grupnya…hahaha…memang vector saya masih dikit baru sekitat 40 tp bibit penghasilan sudah nampak…Terima kasih gan…sangat menginspirasi…

  4. Hermiadi says:

    Mantap sekali pencerahannya yang sangat memitivasi… πŸ™‚

  5. Anton says:

    gan, mohon bimbing saya di bisnis digital

    • sangpena says:

      Silakan tanya-tanya aja gan, gapapa, boleh, gratis πŸ˜€

      • Anton says:

        penjualan pertama di shutterstock dulu setelah berapa hari/banyak upload gan?

        • sangpena says:

          Hari pertama setelah upload dulu langsung ada yang nyangkut, hehe, πŸ˜€

          Coba bikin stock sampai 1000 item dulu, lalu evaluasi penjualannya πŸ™‚

          • Anton says:

            waktu upload apa berpengaruh ya gan? hehe ini sudah 5 hari blm ada yang download. sedih ane πŸ™

          • sangpena says:

            gk berpengaruh, kalau dari sudut pandang pembeli lebih ke MANFAAT DESIGN, kalau ada kebutuhan pasti didownload πŸ™‚

            Banyakin gambar, jangan fokus penjualan dulu. Evaluasi nanti aja kalau udah punya ribuan stock.

          • Anton says:

            alhamdulillah gan πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog