Bahagialah dari Hal-Hal Kecil

sangpena.com | Beberapa atau sebagian besar orang yang berdompet tipis seperti saya, hehe. Mungkin pernah berfikir, membayangkan, berandai, bahwa hidup ini akan bisa mengenyam rasanya bahagia manakala punya uang yang melimpah. Bisa jalan-jalan ke luar negeri, membeli apapun yang kita mau tanpa khawatir kehabisan isi dompet.

Ternyata anggapan tersebut tidak benar-benar BENAR. Bahkan bisa dibilang salah besar. Ternyata materi tidak bisa menghadirkan kebahagiaan yang sempurna.

Lihatlah orang kaya yang super sibuk, mengurusi semua yang berkaitan dengan asset, mengembangkan asset, manajemen waktu yang benar-benar terukur untuk bisnis. Tapi, ternyata ada yang kurang. Orang kaya tersebut tidak dapat membeli waktu, sedetikpun. Dalam harap, dia bisa meluangkan waktu, bertemu dan bercanda dengan keluarga di rumah. Uang tidak bisa membeli dan menggandakan waktu.

Lihat pak tani, dalam segala kesederhanaan, dia masih memiliki waktu yang cukup untuk keluarga. Makan siang bisa pulang ke rumah, atau sesekali istri tercinta datang ke sawah dengan anaknya. Sore pulang ke rumah, saat malam menyapa, dia sudah bisa dalam hangat memeluk semua anaknya, bercanda dan tertawa. Mereka bahagia.

Istri cantik, susah diatur. Istri biasa, taatnya luar biasa kepada suami. Kecantikan yang tidak “tersyukuri” dengan baik ternyata juga mengerikan akibatnya. Beruntung yang masih jomblo macam penulis, punya planning untuk mengedepankan memilih istri yang taat suami, daripada mengekor dompet suami. Hehe.

Liburan. Banyak yang rela menabung hasil kerjanya berbulan-bulan, demi gengsi bernama “ke luar negeri”. Ternyata, sepulangnya dari liburan di luar negeri, dompetnya kosong lagi. Stress lagi. Apa di Indonesia kurang banyak destinasi yang lebih murah dan tidak kalah indah?

Smartphone. Betapa banyak yang jadi budak kemajuan teknologi yang satu ini? Mahalnya kadang tak sebanding dengan apa yang direnggut. Tentang waktu untuk sahabat kita, tentang menyapa orang di sekitar kita. Bahkan kita sering lupa janji, tidak tepat waktu hanya karena benda mungil tersebut. Lihatlah, di luar sana tidak sedikit mereka yang dengan gadget biasa menghasilkan karya berjilid-jilid, bertumpuk karyanya untuk dikenang manusia. Mereka yang sibuk dengan gadget, usia mereka hanya sebatas fungsi gadget tersebut. Sebenarnya mereka telah “selesai”. Apa yang diharapkan?

Bahagia. Hal besar yang sebenarnya bisa kita miliki, tapi kita lupa cara menggapainya. Banyak upaya dikerjakan untuk mencapai bahagia, sampai-sampai lupa, bahwa bahagia itu datangnya dari sini, hati. Hati yang penuh syukur, hati yang tidak terbebani nafsu dunia. Bukankah kita bisa melihat segalanya begitu indah dalam kesyukuran?

Sebaliknya, hati yang jauh dari syukur. Hidupnya dipenuhi was-was, selalu merasa kurang atas apa yang telah dimiliki.  Dengki atas pencapaian orang lain. Sakit “hati” ini lebih akut daripada sakit fisik yang diderita manusia. Astaghfirullah.

Bersyukurlah. Bersyukurlah. Allah yang akan menjamin bahagia. Jangan menunggu punya baru bersyukur. Jangan menunggu derajat dan pangkat baru bersyukur. Ketika kesyukuran kita beri embel syarat ini itu, tak akan ada namanya kebahagiaan. Karena saat anda mencapainya, akan terlihat hal lain yang lebih baik. Begitu seterusnya.

Saat bangun tidur, bersyukurlah. Allah masih berikan kembali usia yang tak seberapa. Saat bercermin, bersyukurlah, betapa sempurna Allah menciptakan anda. Bila berangkat kerja, peluklah keluarga anda satu-satu, pelukan paling hangat, sepanjang hari. Tataplah mereka penuh syukur.

Saat anda diuji, bersyukurlah, betapa Allah melapangkan jalan anda dengan ujian. Baiklah sangka, karena tak ada ujianNya yang tanpa hikmah. Yakinlah, Allah tetap Maha Penyayang dengan ujian tersebut.

Bila sibuk kerja, bersyukurlah. Tidak sedikit saudara kita di luar sana yang kelaparan dan tidak memiliki pekerjaan untuk menyambung hidup. Bila anda mempunyai keinginan lain, bersyukur dan berdoalah, yakin Allah Maha Mendengar, soal terkabul atau tidaknya, itu hak prerogatif Allah, jangan berburuk sangka.

Bersyukurlah, anda telah membaca tulisan ini. Karena saat anda membaca tulisan ini, berarti anda bisa membeli paket internet, yang bagi sebagian orang tidak memiliki karena lebih pentingnya urusan menyambung nyawa daripada mengakses dunia maya.

Bersyukur ya 🙂 terima kasih. Jika berkenan untuk membagi tulisan ini kepada saudara kita yang lain.

Jakarta, 3 Mei 2015

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *