Beruntung Hidup di Negara Berkembang (Daripada Negara Maju)?

sangpena.com | Sedikit cerita ini barangkali bisa menghibur saya, atau pembaca. Bahwa negara yang maju, tak selamanya benar-benar maju di banyak aspek, terlebih tentang hubungan sosialnya. Baca yuk, jangan lupa boleh dishare. Ini tulisan dari senior saya di organisasi beberapa tahun silam.

Sudah hampir setahun tinggal di Jerman membuat saya ingin berbagai sedikit cerita tentang pengalaman hidup. Tentu cerita ini bersifat pribadi, boleh setuju dan dianjurkan sekali menolak.

Setahun bisa dibilang belum begitu lama, tetapi ada banyak hal baru yang saya alami. Mungkin orang beranggapan, hidup di negara maju itu enak, sejahtera, lebih bahagia dan lain sebagainya. Dalam beberapa hal betul juga, karena kesenjangan sosial tidak begitu mencolok. Tidak banyak kegaduhan dan kriminalitas. Hukum dan aturan juga adil untuk semua pihak. Di Jerman, hampir semua orang memiliki taraf hidup relatif setara satu dengan yang lain. Gedung dan rumah antar kota pun tidak terlalu jauh berbeda, bahkan ada guyonan kalau kita tiba-tiba dilempar di satu kota tertentu tanpa tahu itu daerah mana, kita susah menebak bedanya Frankfurt dengan Hamburg atau München dengan Düsseldorf. Begitu juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya, hampir sama antara ibukota Berlin dengan kota-kota lain. Di setiap kota pasti selalu ada mall, pusat perbelanjaan, lokasi rekreasi, pusat pendidikan serta sistem transportasi (kereta dan bis) yang nyaman. Berbeda dengan Indonesia, kemajuan dan modernisasi seolah hanya miliki ibu kota, Jawa, dan kota-kota tertentu. Ironi memang.

Berkaca pada kehidupan Jerman, muncul pertanyaan, mengapa mereka kok lebih suka naik transportasi umum (padahal mahal) daripada kendaraan pribadi? Bahkan professor saya pun pergi ke dan pulang dari kampus juga naik bis dan kereta, karena kerap kali ketemu dengan sang professor di bis tanpa sengaja. Saat saya tanya, prof kenapa kok gak naik mobil saja? Dia menjawab, mobil ada di rumah, tetapi hanya untuk keperluan pergi jauh. Kalau hanya untuk ke kampus, itu justru merugikannya karena mobilnya ada minimal jarak kilometer yang digunakan untuk sekali jalan, kalau kurang dari minimal KM-nya bisa merusak mesin mobil dan penjelasan lain sebagainya.

Beberapa kolega kampus yang tidak punya mobil atau motor mengatakan, kalau mau ke mana saja bisa ditempuh pakek transportasi umum, kenapa harus punya kendaraan pribadi, karena punya kendaraan pribadi jauh merepotkan, harus punya SIM (biayanya mulai dari tes sampai SIM jadi bisa seribu euro, kalo per euro Rp 15 ribu, tinggal kalikan saja), belum lagi pajak dan lain sebagainya. Kebetulan kalau kita mahasiswa atau pekerja, ada SemesterTicket yg bisa digunakan untuk naik bis dan kereta gratis kemana aja se-negara bagian. Namun, kita di Indonesia betapa bahagianya bisa punya mobil atau motor dengan cara nyicil, bisa klaim asuransi, buat SIM murah lagi (350 ribu udah nembak, nah lho).

Trus, apakah biaya listrik di Jerman murah? Sebagai ilustrasi, saya tinggal sendiri di apartemen yang sederhana. Biaya listrik, gas, dan air per bulan kena 58 euro (setara Rp 870 ribu) dengan pola pemakaian sangat hemat, ini di luar biaya sewa apartemen. Sedangkan di Indonesia, kita bisa puas-puasin pakek listrik, air, dan gas mungkin gak lebih dari Rp 200 ribu (hidup seukuran keluarga sederhana). Belum lagi setiap orang yang tinggal di Jerman harus bayar pajak tivi antara 17-20 euro (225rb-300rb), padahal belum tentu semua orang punya tivi dan mau nonton, karena program acaranya mirip TVRI (kecuali yang punya tivi kabel). Seorang teman Jerman pun kadang jengkel setiap ditagih bayar karena dia gak punya tivi dan gak pernah lihat tivi. Alasan pihak penagih, anda punya internet? Ada punya komputer & HP? Itu berarti anda bisa lihat tivi kabel atau tivi streamming. Sedangkan di Indonesia, gratis tis tis tanpa bayar apa pun untuk televisi.

Mengenai kehidupan sosial, janjian (istilah Jermannya: termin) adalah hal yang sangat penting. Janjian digunakan untuk segala urusan, mulai dari birokrasi pemerintah, kampus hingga hal sepele ketemu dengan teman. Bahkan beberapa tukang cukur di Jerman harus pakek janjian. So, sebelum kita berangkat ke tukang cukur, kita telepon dulu, kalau tukang cukur setuju dengan waktunya, barulah kita datang sesuai jam. Kalau kita tiba-tiba datang tanpa janjian, hal yang wajar kalau ditolak. Bagi mereka, janjian adalah ciri masyarakat beradab. Bener nih beradab? Karenanya, beberapa teman di Dortmund juga jengkel, mereka mengeluh karena terkadang untuk urusan sepele saja harus pakek janjian, padahal bisa diselesaikan saat itu juga. Berbeda dengan Indonesia, kalau kita mau ketemu ya ketemu aja, gak perlu janjian segala, bahkan nongkrong di warung makan atau ngumpul ketawa-ketiwi di gardu pun hal yang biasa bagi kita. Beginilah indahnya Indonesia, gak perlu repot-repot dan pakek janjian segala.

Lalu, apakah birokrasi di negara maju lebih bagus daripada di Indonesia? Asisten professor saya heran ketika saya buat visa resident permit di keduataan Jerman di Indonesia hanya membutuhkan waktu 1 bulan hingga visa jadi, karena mereka beranggapan pembuatan visa bisa memakan waktu 3 bulan (gak usah heran bro, inilah hebatnya Indonesia). Saat saya berurusan dengan segala macam birokrasi di Dortmund, mulai dari urusan imigrasi, transportasi, listrik, kantor polisi, dan birokrasi kampus, luar biasa lambat dan repotnya. Segala urusan bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Gak di Indonesia gak di Jerman sama aja birokrasinya, benar-benar lambat. Karena itu, perlu diacungi jempol bagi cepatnya beberapa birokrasi di Indonesia, mulai dari sistem satu atap, urusan sekali datang selesai, dan lain sebagainya. Pokoknya kita gak kalah maju.

Apakah orang Jerman jauh lebih pinter dari orang Indonesia? Kalau lebih taat pada aturan mungkin iya, sebaliknya kolega kampus di Dortmund justru mengakui kalau orang Indonesia sangat kreatif dan suka menolong. Bahkan dia mengatakan, orang Indonesia itu tau yang kita sendiri tidak tau. Sebagai contoh, orang Indonesia bisa nemukan harga apartemen murah dekat kota sedangkan orang Jerman taunya kalau apartemen di kota pasti selalu mahal daripada apartemen di pinggiran kota.

Nah, kita ini justru diakui pinter sama orang Jerman sendiri, sudah pinter, kreatif dan suka menolong pula. Soalnya kalau ada temen sesama Indo yang mau pindahan rumah, biasanya kita saling bantu angkut-angkut barang. Hal ini yang gak berlaku bagi orang Jerman. Kalau mereka mau pindah, ya silakan pindah aja sendiri. Bagi mereka, tidak ada pekerjaan gratis. Di Indonesia, kita benar-benar menolong sesama tetangga, ada kerja bakti, ronda malam, tradisi menjenguk famili/teman sakit, nyumbang nikahan, yasinan, kenduri dan lain sebagainya yang ini semua gak bakal kita jumpai di Eropa. So, jangan pernah remehkan bangsa kita.

Hidup di Jerman segalanya serba berbayar. Jika ada ungkapan, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri, sekarang ada ungkapan lagi: negara maju lebih kejam daripada negara berkembang. Mau bukti? Contoh riil, toilet umum aja bayar 50 cent (7.500), itu sekali masuk dan untuk satu orang lho. Bahkan ada beberapa toilet umum yang bayar 1 euro (15 ribu). Kalau urusan parkir kendaraan, per jam 1 euro. Seandainya kita parkir 5 jam karena ingin jalan-jalan ke mall, maka kena 5 euro (75 ribu). Kalau jamnya nambah, tinggal dikalikan aja. Di Indonesia, meski toilet bayar seribu atau ada yang 2 ribu, beberapa lokasi toilet masih ada yang gratis. Untuk urusan parkir, mau berapa jam aja, mobil cukup kena 5rb sekali parkir. Masih bilang enak hidup di negara maju?

Kalau rapat atau meeting apakah ada snack atau makan? Selama saya tinggal di Dortmund dan seringkali menghadiri seminar atau sekadar rapat tim dengan professor dalam berbagai pertemuan, snack tidak pernah ditemui. Meskipun pernah ada sekali snack saat acara colloquium, itu pun sekadarnya saja, teh/air putih dan roti tawar. Di Indonesia? Jangankan snack, setiap rapat pasti ada makan (menunya berubah-ubah lagi tiap rapat). Enak mana kalau kayak begini? Maka di negara maju tidak ada istilah traktir-mentraktir. Jangan ke-GR-an dulu kalau ada teman yang ngajak makan, itu bukan berarti kita ditraktir. Kita tetap bayar masing-masing. “No free lunch,” tidak ada makan siang gratis, beginilah pepatah Barat berkata.

Karena itu, wajar kalau orang Barat berpikir matematis. Untuk punya anak, cukup satu atau dua saja. Jika lebih dari itu, biasaya mereka termasuk sangat kaya. Bahkan beberapa pasangan memilih untuk tidak punya keturunan karena alasan ekonomi. Betapa kasihannya mereka hingga lebih memilih memiliki hewan piaraan untuk sekadar teman. Di Indonesia, mau punya anak berapa aja gak masalah, karena prinsip hidup kita, rezeki itu Allah yang mengatur. Dan ternyata mereka yang punya anak banyak, sebagian besar sukses juga. Tidak semua urusan dalam hidup ini dipikir pakek logika dan matematika.

Untuk orang Muslim, waktu sholat di Jerman berubah-ubah. Kadang Subuh jam 3 pagi, di bulan yang lain bisa jam 7 pagi. Begitu juga Maghrib. Kadang jam setengah 5 sore, kadang jam 10 malam. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana mereka berpuasa selama 18-19 jam dengan musim yang berganti-ganti. Di sinilah ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa puasa menjadikan kita sebagai orang-orang bertakwa benar-benar dirasakan. Sedangkan di Indonesia, tidak ada perubahan waktu sama sekali. Puasa pun sekitar 13-14 jam, itupun masih dianggap kelamaan. Di mana rasa bersyukur kita?

Sobat, kapan kita pernah membanggakan bangsa kita? Silakan tinggal dan menetap dulu di negara maju untuk beberapa tahun, bukan hanya untuk jalan-jalan saja. Setelah itu, baru kita merasakan apa yang berbeda dari tanah air. Sekarang saya baru menyadari bahwa kita seringkali terlalu meremehkan diri kita sebagai orang Indonesia. Menjelek-jelekkan dengan cerita lucu yang sebenarnya kurang baik juga. Barat memang lebih maju, tetapi kemajuan belum tentu membawa pada kebahagiaan. Banyak hal baik yang sudah kita miliki termasuk tradisi kita yang justru jauh lebih ramah. So, masihkah kita meremehkan diri kita sendiri dan membanggakan kehebatan Eropa, Amerika, dan negara maju lainnya? Cintailah negerimu dengan segala kekurangannya. Please think more about it.

viel Grüße von Dortmund,
Ridho Al-Hamdi
10 Mei 2015 (mein Geburtstag, Dreißig Jahre)

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

1 Response

  1. Top! Keren mas tulisannya, setuju banget sama pernyataan pribadi dari empunya blog ini. Respect! Bangga jadi orang Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog