biografi_sangpena

Biografi

 

Sekarang, Bisa Daftar Shutterstock Tanpa Paspor! Selengkapnya>>

1991

Lahir Hari Rabu Wage, dini hari di Dusun Sunggun, Desa Medalem, Kec. Kradenan Kabupaten Blora tanggal 5 Juni 1991. Saat itu listrik belum masuk ke desa, sehingga penerangan masih bersifat tradisional menggunakan lampu minyak tanah.

Dilahirkan bahagia di desa hijau dan subur dengan persawahan yang membentang dari ujung ke ujung. Jalan belum ada yang diaspal, sehingga kalau musim hujan datang dibutuhkan perjuangan ekstra untuk melewati jalan dan sekedar pergi beraktivitas.

Masih tahun 1991 di pekan yang sama dengan kelahiran, konon kata ibu terjadi banjir besar di sungai bengawan Solo. Banjir paling besar yang pernah terjadi. Beno, dalam istilah bahasa jawa yakni banjir bandang. Sehingga di pekan ini, lahir juga seorang kawan yang dinamakan Supeno – beno. Katanya sih, begitu 😀

 

Mendapatkan 600$ Pertama Tanpa Jualan Stock di Shutterstock! Selengkapnya...

Meskipun secara faktual dilahirkan tanggal 5 Juni, tetapi karena kesalahan administratif atau kesengajaan tanggal lahir secara resmi mengikuti ijazah SD yang salah tanggal menjadi 1 Juni. Mungkin patut dicurigai ada motif biar terlihat keren oleh guru saat itu, karena tanggal 1 Juni merupakan hari kelahiran Pancasila. Tapi, akhirnya ijazah dan semua kartu identitas sampai hari ini menggunakan 1 Juni, bukan 5 Juni -_-//

1993

Adik saya Siti Maryani lahir, si bungsu perempuan di dalam keluarga sekaligus anak putri ke dua ibu. Satu-satunya adik saya yang paling bandel dan bisa dibilang berani. Tidak ada takut-takutnya jika sedang berhadapan dengan kakak-kakaknya.

Salah satu yang membekas di dalam ingatan di masa kecil adalah, saat menjelang tidur. Kami biasa “berebut” ibu untuk menemani tidur. Sebuah ritual yang tak jarang berujung tangis karena kalah posisi dan kekuatan. Ya, begitulah namanya anak-anak kan?

Saat ini sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang putri cantik, tinggal di Wonosobo.

1997 …

Jika hitungan mundur benar, maka tahun 1997 saya masuk di bangku TK (RA). RA Muslimat NU Medalem menjadi “kawah” pertama tempat belajar membaca, menulis, mengenal huruf hijaiyah, menyanyi TOPI SAYA BUNDAR yang legendaris itu, sampai membawa bekal Indomie lauk telur yang hanya bisa terjadi saat acara Isra’ Mi’raj, entah apa maksudnya 😀

Jika boleh dibilang kelebihan, di antara teman-teman sekelas saat TK dulu saya sudah lancar membaca dan menulis bahkan sebelum resmi masuk TK. Kakak perempuan saya, Siti Amiatun menjadi orang pertama yang mengajarkan baca tulis.

Bakat kecerdasan ini akan teruji saat saya masuk Sekolah Dasar 😀

1998 – 2004

Sekolah Dasar, SD Medalem 03. tempat yang menjadi sejarah paling banyak mengukir prestasi saat belajar. Tahun pertama sekolah dasar (kelas I) terasa masih canggung untuk berekspresi, faktor ekonomi keluarga yang bikin minder di awal sekolah mengakibatkan diri tidak cukup berani untuk unjuk diri dan akselerasi prestasi 😀 *ngeles.

Tapi mulai kelas 3 SD, ada prestasi mengejutkan. Saya rangking 3 pemirsa! Sebuah prestasi yang wow banget untuk ukuran di keluarga saat itu. Ditarik kesimpulan, ternyata butuh 3 tahun adaptasi agar berani bersaing dan tampil maksimal di kelas. #okesip! Dari sinilah prestasi dimulai 😀

Karena stimulus rangking di kelas 3 dan dapat hadiah (saat itu) berupa buku tulis, makin bagus rangkingnya makin banyak bukunya. Kelas 4 saya “menggila”, catur wulan satu dan dua berhasil meraih podium juara satu di kelas. Sayangnya, di catur wulan terakhir saya gagal juara satu 🙁 padahal kakak laki-laki menjanjikan sebuah ponsel, wkwk. Salah niat kali? Iya! 

Kelas 5 SD menjadi tahun pamungkas mengobati luka kelas 4, -_-. Saat itu sistemnya sudah bukan catur wulan, melainkan sistem semester. Beruntungnya, saya berhasil mengoleksi juara satu untuk dua semester berturut-turut. Alhamdulillah. Syukurnya lagi, saya bersama tim mewakili sekolah berhasil menang lomba dokter kecil untuk tingkat Kecamatan dan menjadi wakil kecamatan untuk tingkat Kabupaten. Tidak hanya sekali, tapi dua tahun berturut-turut (kelas 5 dan 6)! wkwk, tsadesss! Ya, kabar kurang baiknya: di tingkat Kabupaten hanya jadi juara harapan palsu 😀

Finally, kelas 6. Puncak dari segala perjuangan di sekolah dasar ditentukan di sini. Materi lebih sulit, dan saya lebih pemalas, terbuai kemenangan. Hahaha. Semester I prestasi turun, saya juara dua kelas :(. Akhirnya bangkit, karena tidak mengenakkan juga ketika harus kalah di akhir perjuangan. UN harus juara, begitu prinsip saya saat itu. Alhamdulillah, diijabah! Saya juara I kelas pas Ujian Nasional sekaligus mematahkan asumsi kalau saya pinternya hanya kebetulan dan didukung faktor keberuntungan.

Eit, kayaknya iya sih, faktor keberuntungan. Hahaha, beruntung gk usah belajar dan tetap pinter. #eh, dosa! Harus belajar biar pinter ya! 😉

Guru-guru yang membersamai saat SD: 

Bu Maryam, guru dan wali kelas I kalau tidak salah. Sangat mengayomi dan sabar.
Bu Darni, mentor terbaik yang berhasil “mengawal” saya menjadi lebih baik saat kelas 5, ketika prestasi butuh penuntun dan pengendali.
Pak Rusdi, sekarang sudah jadi kepala sekolah di SD lain. Yang berkesan? galak! wkwk.
Pak Fatchurrozi, guru agama plus guru olahraga. Di SD, guru harus multitalent kan?
Bu Asih, wali kelas VI. Beliau salah satu yang memompa semangat menjelang UN. Istilahnya EBTANAS kali ya? hmm.
Pak Joko, kepala sekolah yang jenaka dan galak. Kombinasi yang aneh dan lucu, ya sekalipun kadang-kadang tidak menyenangkan. Hahaha.

Kisah berlanjut…

2005 – 2007

SMP. Sebuah sekolah mewah, mepet sawah: SMP N 2 Menden. Tidak terlalu banyak kisah di sini. Selain karena memang saya kurang aktif kegiatan, persaingan juga berat bro. Hahaha. Juga karena lupa, apa yang mau dituliskan -__-.

SMP menjadi masa tak terlupakan, bisa jadi. Tapi bukan di urusan akademik sih. Di SMP saya mengenal untuk pertama kali namanya solidaritas, berani melawan aturan, hingga berani melawan tukang kebun. Ini jangan ditiru, wkwk.

Contoh solidaritas yang saya maksud adalah: bolos di jam sekolah atau familiar di kami dengan istilah nge-blong. Ini beda dengan rem blong ya. Ngeblong = bolos sekolah. Suatu kondisi dimana kita tidak berada di kelas saat ada guru mengajar bukan karena alasan yang shahih dan bisa dibenarkan aturan. Ngeblong ini bisa ngumpet di belakang sekolah, di WC, hingga pulang ke rumah teman. Hahaha. Tapi enggak ding, yang terakhir itu tidak benar. Bolos ya bolos aja, paling di sekitar sekolah 😀

Materi favorit yang sering kami hindari adalah: Matematika dan Fisika. -_- Maafkan kenakalan kami dulu, Pak, Bu 😀 Pahlawan Tanpa Bintang Jasa. 

Oh iya, saya tergolong aktif di bidang olahraga saat SMP. Terbukti bisa jadi set-upper atau tosser tim inti bola voli SMP saat itu. Ya sekalipun gk jago-jago amat, wkwk. Terima kasih Pak Sugiyanto, guru olahraga kami yang legendaris dan sering dibully muridnya sendiri. Semoga sehat selalu 😀

Pengalaman lain yang tak kalah berkesan adalah hukuman karena telat masuk sekolah melebihi batas waktu. Lebih celakanya lagi kalau telatnya pas hari Senin saat upacara. Ibarat jatuh sudah tertimpa tangga, temboknya roboh pula. Kami akan dijemur dan dipajang di barisan depan, malah tengah ding. Tidak berhenti di situ, setelah beres upacara kami akan kena hukuman tambahan membersihkan rumput seluas lapangan -__- yang tidak pernah habis seandainya satu sekolah terlambat terus setiap Senin 😀

Untuk hukuman tersebut, kami semua menaruh hormat kepada Kepala Sekolah yang menjadi pengawas saat hukuman berlangsung, Bapak Sis. Beliau telah berpulang, tapi gaya bicara dan teladannya, insyaAllah masih terkenang. InsyaAllah khusnul khatimah dengan ilmu yang bermanfaat.

Di masa SMP ini, saya juga kehilangan sosok seorang bapak. Bulan Syawal tahun 2005 menjadi akhir kami merasakan kebersamaan idul fitri. Selepas maghrib beliau meninggal, masih dalam suasana syawal. Tanpa sakit, tanpa pertanda apapun. Semoga khusnul khatimah 🙂 Semoga bisa menuliskan kisahnya tersendiri…

Penutupnya? kabar membahagiakan, saya menyudahi perjuangan SMP dengan menjadi juara I sekolah saat UN 🙂 mungkin benar jika faktor keberuntungan, tapi bisa jadi do’a ibulah yang menghantarkan kebaikan-kebaikan dan kemudahan itu. Tidak percaya? minta doa ibu sekarang juga! 😀

Guru yang berkesan? 
Pak Sugiyanto, guru olahraga yang pernah saya sebutkan di atas. Ada panggilan khusus yang tidak pas ditulis di sini, tapi murid-muridnya (yang bandel tadi) pasti tau 😀
Bu Tutik, guru IPS yang masih terhitung saudara karena memiliki pertalian darah dengan kakek-nenek.
Bu Supiyah, guru PKn. Sering dibuat jengkel karena di kelas memang lebih banyak yang bandel. Saya bukan termasuk 😀
Pak Rokhim, guru Bahasa Indonesia terbaik dalam mengajarkan story telling yang pernah saya temukan. Bahkan hingga detik ini!
Bu Yuni, guru bahasa Inggris yang melalui beliau Allah bukakan keajaiban tentang jalan panjang sebuah impian.
Pak Abdul Muiz, guru agama yang super galak. Wkwk, tetapi beliau menyenangkan. Sesekali atau beberapa kali saja galaknya 😀
Dan lain-lain, 🙂 Pak Anom, Pak Iwan, Pak Parji, Bu Har. Semoga amal dari ilmu bermanfaat yang pernah disampaikan kepada kami selalu mengalir.

Berikutnya… Bersambung 😀

Galau …

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis seputar teknologi dan bisnis di sangpena.com. Opini pribadi di 100kata.com Kesibukan sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *