Engkaulah Yang Menjauhkan Anakmu Sendiri

sangpena.com – Oleh Fahd Pahdepie. Para orangtua sering mengambil jarak dari anak-anak ketika mereka menghadapi masalah atau tekanan dalam hidupnya.

Tak jarang anak-anak dianggap merongrong atau mengganggu, sambil dibentak, “Sana, main! Jangan dekat-dekat!” Atau “Jangan ganggu Papa!” Atau “Apa nggak bisa lihat Mama lagi sibuk, heh?”. Anak-anak itu kemudian menjauh dengan punggung yang kecewa. Di lain waktu, mereka menangis meminta perhatian kita. Di situasi seperti itu, mungkin para orangtua ini bertambah marah, membentak lebih keras lagi, menyalahkan anak-anak yang “tak bisa mengerti”.

Tapi, bukankah anak-anak memang belum mengerti? Mengapa kita mesti melampiaskan ketakberdayaan kita dalam menghadapi masalah kita kepada anak-anak? Mengapa kita menumpahkan kekesalah kita pada atasan, pekerjaan yang tak kunjung selesai, atau lainnya pada anak-anak kita?

Banyak orangtua yang tak sadar telah menjadi “monster menakutkan bagi anak-anaknya sendiri”. Kita tak suka orang lain menekan, mensubordinasi, dan bertindak sewenang-wenang pada kita; lantas, mengapa kita melakukan hal yang sama kepada anak-anak kita?

Mungkin ini saatnya untuk mengubah cara kita melihat anak-anak dan keluarga di tengah berbagai masalah yang kita hadapi: Justru merekalah sumber energi kita untuk menghadapi semuanya. Justru merekalah, yang dengan tanpa memedulikan hal buruk apapun yang sedang menimpa kita, tetap bersedia berada di sekeliling kita untuk membagi cinta dan keceriaan mereka.

Mungkin inilah saatnya kita mendekap mereka: Sambil mengucapkan terimakasih dan semacam pernohonan maaf.

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *