Karya Sebagai Semacam “Kartu Nama”

sangpena.com – Perlukah kita membuat ‘kartu nama’ agar orang lain tahu siapa kita?

Di masa ketika kartu nama begitu keren, kualitas individu seolah ditentukan oleh sejumlah hal: Logo yang tertera di kartu nama itu, gelar yang tersemat di awal atau akhir nama yang tertulis di atasnya, di mana tempat tinggal dan alamat kantornya, deretan angka cantik yang terdaftar sebagai nomor teleponnya.

Namun, seperti kita tahu, masa itu segera berlalu. Kita semua sadar bahwa gelar, nomor telepon, alamat tinggal bahkan logo perusahaan semuanya bisa menipu! Semua itu tak bisa benar-benar menggambarkan kualitas individu seseorang. Apalagi kartu nama bisa dicetak di mana saja dengan harga murah, kan?

Orang-orang lantas berpindah memercayai ‘kartu anggota’. Golongan atau klub menjadi identitas yang dianggap penting dan prestise bagi seseorang. Pertanyaan seperti “Aktif di mana?” atau “Apa organisasinya?” seolah selalu penting ditanyakan di setiap awal percakapan.

Lantas kita berpikir lagi: Orang-orang yang bergerombol lebih sering merupakan sekumpulan individu yang kurang percaya diri. Mereka yang selalu butuh untuk terkait (attached) dengan orang lain yang lebih pintar, lebih kaya, lebih senior, dan seterusnya selalu terasa seperti remaja yang gagal dewasa. Kini kartu anggota jadi kurang berarti karena besar kecilnya reputasi sebuah organisasi lebih sering tak berbanding lurus dengan kualitas individu yang seseorang miliki.

Bagaimana dengan kartu lain? Selanjutnya kita melihat orang berdasarkan kelas kartu debit atau kartu kredit yang mereka miliki. Kita membagi orang berdasarkan logika perbankan yang absurd: Platinum, gold, atau silver. Kita mengira-ngira orang yang punya kartu platinum sebagai orang sukses dan mapan, gold di kelas menengah, dan silver milik semua orang biasa saja. Apakah pembagian-pebagian itu tepat? Tentu saja tidak. Uang selalu terlalu sederhana untuk mengukur kualitas seorang manusia!

Dengan alasan-alasan itulah, sejak lama saya tak terlalu memedulikan kartu-kartu dalam hidup saya. Kartu nama mungkin diperlukan, tetapi bukan cara saya menunjukkan kualitas diri. Saya punya sejumlah kartu klub atau organisasi, tetapi organisasi manapun tak akan saya biarkan untuk mengurung dan membatasi saya. Saya adalah individu yang bebas dan tak bisa dikotak-kotakkan. Dan saya tak beriman pada logika perbankan.

Lalu apa yang bisa menggambarkan kualitas seseorang?

Karya. Apapun bentuknya adalah medium terbaik yang bisa kita percayai untuk mewakili diri dan identitas. Dalam karya itulah pikiran dan perasaan kita menemukan bentuk lainnya. Tak ada karya yang sempurna, memang. Tapi dengan terus berkarya, kita menunjukkan kualias individu yang terus berproses untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Inilah saatnya kita dikenal karena karya-karya yang kita hasilkan. Bukan lagi tentang gelar atau organisasi tempat kita berasal. Inilah saatnya memiliki karya sebagai semacam kartu nama.

Sebarkan!

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog