Melamar

melamar
 

10 Peringkat Teratas Microstock Agensi Tahun 2018 BACA DI SINI

sangpena.com – Alkisah. Hari itu Wahyu bertekad bulat untuk melamar seseorang yang dicintai, di ujung sana. Untuk niat mulia itu, ia akan mengutarakan niatnya kepada Ayah dari Tuan Putri. Dengan menggunakan batik terbaik ia meluncur ke rumah tujuan.

Setelah diterima dan berbasa-basi sejenak, Wahyu meminta kesempatan untuk berbicara empat mata dengan sang Ayah. Maka dimulailah percakapan bersejarah itu.

“Pak, saya ingin melamar Putri bapak menjadi istri saya.”

 

Curhat Freelancer: Ketika Rupiah Menguat(irkan) Baca di 100KATA.com

Sambil terkaget dan membelalak, Ayah menjawab, “Melamar anak saya? Kamu punya uang berapa berani melamar anak saya?”

Terdiam sejenak dan merenung, Wahyu menjawab, “Saya ada simpanan uang 900 ribu, Pak.”

Terdengar gebrakan meja, “Apaaa?! Cuma 900 ribu berani melamar anak saya?! Kamu pikir anak saya makan apa?! Kamu harus punya jutaan, baru boleh datang lagi ke sini!”

Wahyu pulang dengan wajah lunglai. Tapi cinta yang begitu kuat membuatnya tidak menyerah untuk terus mencoba. Minggu berikutnya, ia datang lagi dengan penampilan yang lebih meyakinkan.

“Sudah punya uang berapa juta kamu?”, tanya Ayah membuka pembicaraan. 

Dengan mantap Wahyu menjawab, “Saya sudah punya setengah juta dan empat ratus ribu, Pak. Bolehkah saya melamar Putri bapak?”

Ayah tersenyum dan menjawab, “Hebat! Hebat! Oke, kamu boleh melamar anak saya!”


Pesan moral: Materi memang menjadi salah satu bagian penting dalam membangun masa depan pernikahan sebuah keluarga. Tetapi tidak semuanya harus diperhitungkan secara materi, kan? Bahagia juga wujud materi kok! 😀

 

Semarang, 21 Januari 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *