Menakar Kadar Ketersinggungan Kita

Oleh Izzul Muslimin – Konon, katak yang dimasukkan ke dalam baskom, dan ketika baskom itu dialiri air panas maka sang katak akan serta merta melompat dari baskom. Tapi ketika baskom itu diisi air dingin, dan baskom kita letakkan di atas kompor yang menyala kecil apinya, maka sang katak akan tetap bertahan di baskom, dan akhirnya mati dengan sukses bersama air yang telah mendidih. Ya, sang katak lebih sensitif ketika disiram air panas dan dia akan melompat cepat. Namun katak justru terlena dan menikmati sentuhan air yang pelan tapi pasti menghangat dan akhirnya mendidih, dan dia sudah tak bisa lagi keluar dari baskom yang mengancam hidupnya.

Manusia juga begitu. Mungkin kita akan meradang ketika nama orang tua kita dihina, kebangsaan kita disinggung, atau agama kita dinista. Secara reflek kita pasti akan melawan dan memberontak terhadap pihak yang menyinggung kita. Ini hal yang wajar dan harus. Inilah yang disebut ghirah. Jika kita sudah tidak punya ghirah terhadap orang tua kita, kebangsaan kita, dan agama kita, maka kita sudah tidak punya harga diri lagi.

Oleh karena itu, selama masih menggunakan akalnya, musuh tidak akan masuk ke wilayah itu. Mereka akan mengalahkan dengan cara yang halus dan tidak menyinggung harga diri. Mereka akan membujuk dan merayu sampai kita menyerahkan leher kita dengan senang hati. Ibarat anak yang diwarisi tanah luas, perlahan lahan tanah dilepaskan satu persatu dengan senang hati kepada makelar tanah, hingga akhirnya tak satupun tanah dimilikinya. Tak ada pilihan lain akhirnya justru si anak pemilik tanah itu hanya jadi pekerja di perusahaan yang dulu membeli tanahnya.

Ghirah yang sifatnya reaktif jangan sampai baru muncul setelah kita terpojok, setelah kita kehilangan, setelah kita tidak punya kekuatan dan dipinggirkan. Kita baru bisa berteriak marah setelah kita tidak punya kekuatan.

Bisakah kita mengubah ghirah yang bersifat reaktif menjadi ghirah yang lebih tersistem, terencana, dan antisipatif? Jawabnya bisa! Tapi tentu ada syaratnya. Pertama, kita harus jadi manusia yang tidak berpikir pendek dan jalan pintas. Lebih mudah menyerah hanya karena iming iming kesenangan sesaat.

Kedua, kita harus punya visi dan missi jangka panjang yang akan kita raih. Teguh pada cita-cita dan tujuan. Manusia tanpa cita-cita dan tujuan akan mudah terombang ambing dalam ketidak pastian dan terbawa arus.

Ketiga, kita harus jadi manusia yang selalu mengembangkan dan mensinergikan energi positif. Energi positif adalah energi yang membuat kita selalu mengedepankan nilai keadaban, nilai kebajikan, nilai kemanusiaan, dan nilai keilahian. Bukan mengedepankan keakuan, ketamakan dan keserakahan, serta hedonisme.

KHA Dahlan pernah mengingatkan kepada kita. Islam Insya Allah tidak akan lenyap dari muka bumi. Tapi bisa saja Islam akan lenyap dari tanah Nusantara. KHA Dahlan hidup ketika belum lahir Indonesia. Saat itu kita berada dalam kondisi terjajah oleh Belanda yang notabene bukan muslim. Maka wajar jika keprihatinan itu disampaikan oleh KHA Dahlan. Karena itulah KHA Dahlan menjadikan ghirah Islam dan kecintaannya kepada tanah air dalam bentuk gerakan Muhammadiyah.

Apa yang dilakukan oleh KHA Dahlan mungkin agak berbeda dengan beberapa tokoh Islam sebelumnya yang mewujudkan ghirah nya dalam bentuk perlawanan dan pemberontakan kepada pemerintahan Hindia Belanda. Muhammadiyah bahkan pernah dituduh tidak patriot ketika tidak ikut dalam gerakan non kooperatif terhadap pemerintahan Belanda.

Namun sejarah mencatat, apa yang dilakukan KHA Dahlan dan Muhammadiyah bukanlah tindakan tidak patriot. Muhammadiyah telah menunjukkan patriotismenya dengan caranya sendiri. Kemerdekaan yang akhirnya diraih Bangsa Indonesia tentu tidak lepas dari peran besar KHA Dahlan dan Muhammadiyah mempersiapkan generasi baru yang turut andil besar dalam proses kemerdekaan Indonesia. Apa yang sudah dicontohkan KHA Dahlan semoga bisa menjadi ibrah buat kita sehingga bisa kita teladani.

Aamiin.

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dog