Perpisahan

Kemerdekaan selalu menuntut sebuah proklamasi. Semacam pengumuman kepada khalayak, bahwa kita telah berlepas diri dari semua intervensi, tekanan dan kekangan dari semua bentuk jahiliah dan musuh fitrah. Ibrahim Khaliilur Rahmaan bersama kumpulannya pernah memberi contoh, bagaiman sebuah proklamasi untuk memerdekakan dan berlepas diri dibangun dengan gagah dan kokoh.

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berkata pada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja…” (Q.s. al Mumtahanah [60]: 4)

Begitulah sejarah hadir dan memberi kisah, bahwa ternyata proklamasi selalu menuntut totalitas, tak memandang berapa jumlah. Ibrahim dan masyarakat yang bertauhid hanyalah minoritas di zaman paganis Namrud yang menggilas kemanusiaan. Tetapi lihatlah, mereka tegak terhormat dengan kalimat tegas.

Dalam sejarah, pemuda Ashabul Kahfi pun pernah menjadi gambaran lain, bahwa proklamasi tidak mengikat mereka dalam sekat kewilayahan, tetapi berlepas diri niscaya untuk menegakkan fitrah di manapun, sekalipun hanya di sebuah gua terpencil.

“Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri (di hadapan Raja Dicyanus) lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak mendoa yang selain Dia, sesungguhnya kami, kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai sembahan-sembahan…” (Q.s. al-Kahfi [18]: 14-15)

“Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Rabb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian, dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian” (Q.s. al-Kahfi [18]: 16)

Berlepas diri adalah sebuah kemuliaan. Tidak tergantung kepada musuh fitrah dan jahiliah, membangun seseorang yang penuh percaya diri, sejajar bahkan unggul di hadapan tiran yang berkuasa dalam keburukan.

Seorang ‘Utsman ibn Mazh’un, ketika terjadi penyiksaan atas kaum mukminin oleh para pemuka Quraisy berada dalam lindungan pamannya Al Walid ibn Al Mughirah, seorang pemuka kafir. Dengan segera ia umumkan bahwa ia melepaskan diri dari tokoh musyrik paling disegani seantero Makkah. Hingga tiba hari itu, ketika Allah mengujinya.

Di Ka’bah, didapatinya Lubaid bersyair,
“Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah bathil!”

‘Utsman dengan merdeka berkomentar di majelis bangsawan itu, “Engkau benar!”

Lubaid melanjutkan, “Dan segala kenikmatan pasti sirna!”

“Dusta! Nikmat surga itu kekal!” kata ‘Utsman. Mendengar itu Lubaid berteriak, “Wahai Quraisy, sejak kapan orang-orang bodoh berani mengganggu majelis kalian?” Bangkitlah semua orang untuk memukuli ‘Utsman, mengerubutinya sampai salah satu matanya nyaris remuk. Kata Walid, “Kalau saja kau mau kulindungi, mata itu tak akan cedera!” Tetapi ‘Utsman dengan santai berkata, “Bahkan mata sebelahnya iri untuk mendapatkan luka yang sama!”

Begitulah. Hingga seorang budak seperti Bilal menemukan kemerdekaan di hadapan tuannya. Ia dengan tegas berproklamasi, “Ahad… Ahad… Ahad!” Dalam cambukan, di tengah tindihan dan di atas pasir membara. Kata itu demikian indahnya terucap dari lisan mulia. Sekali lagi kemerdekaan selalu menuntut sebuah proklamasi dan pembuktian diri.

Semarang, 23 November 2016

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *