Prestasi Dulu Baru Akreditasi, Atau Sebaliknya?

sangpena.com – Kuliah di kampus bergengsi dengan berderet akreditasi luar biasa tentu sebuah kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa. Apalagi jika berderet prestasi berhasil disabet kampus tersebut, nasional – internasional dan didukung dengan berbagai standar pendidikan yang diakui dunia.

Percaya atau tidak, akreditasi tersebut sama sekali bukan jaminan bisa memperoleh pekerjaan yang layak di masa depan. Akreditasi adalah pengakuan bagi sebuah standar perguruan tinggi, bukan jaminan kamu yang sedang kuliah untuk menuai kesuksesan. Ya, kamu memang memperoleh ijazah berakditasi, tapi selama kamu tidak memiliki keahlian, ijazah tersebut hanya senilai kertas dengan noktah hitam tinta di atasnya.

Akreditasi akan terus naik sejalan dengan prestasi kampus. Prestasi seperti apa dan darimana? Ya dari mahasiswa itu sendiri. Kamu tidak bisa menuntut kampus memiliki akreditasi baik sedangkan kuliah masih ogah, tugas tidak dikerjakan, suka telat, titip absen, dll. Bukankah akreditasi itu wujud kualitas dari proses perkuliahan di kampus yang PASTI melibatkan mahasiswa? Maka pastikan kamu terlibat, dengan prestasi dan dengan karya nyata!

Bagi yang sedang kuliah di kampus dengan akreditasi biasa saja, B atau C tetap harus bersyukur bisa kuliah. Kuliah itu belajar agar kita bisa menjadi manusia yang bernilai – dinilai ilmunya dan kebermanfaatannya bagi ummat. Bukan sebatas mengejar nilai di atas kertas – karena kampus bukan tempat untuk melahirkan robot-robot industri, tetapi kampus adalah kawah candradimuka yang harus melahirkan pemimpin di masa depan.

Saya percaya semua kampus dengan akreditasi apapun sama-sama memberikan kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkembang dan berdaya saing. Maka, kualitas seorang mahasiswa jangan melulu dilihat kampusnya – tapi lihatlah apa yang dilakukan mahasiswa tersebut di kampus. Apakah kuliah saja tanpa mencari “nilai tambah” di luar kelas, atau sibuk dengan organisasi lupa tugas di kelas – atau yang paling mutakhir: juara di kelas dan berkembang di organisasi.

Opsi yang ke tiga adalah pilihan terbaik, karena harus diakui bersama bahwa berbekal ijazah saja kini tidak cukup – kecuali yang sudah berniat besar berkarir di birokrasi pemerintahan. Masa depan harus ditaklukan dengan kemampuan – bukan pengakuan. Dengan prestasi – bukan akreditasi. Bukan angkuh berkata “saya dari kampus A” tetapi “saya bisa melakukan A” dan lain sebagainya.

Setelah perjalanan panjang empat tahun kuliah dan berorganisasi di kampus, sekarang saya sangat bersyukur – bersyukur pernah kuliah di kampus dengan akreditasi biasa saja dan prodi yang biasa saja pula. Setidaknya sekarang saya bisa membuktikan, bahwa dengan kampus yang biasa pun kita masih bisa bersaing di dunia kerja profesional. Bisa berdiri dengan mereka yang memang dibesarkan kampus ternama.

Sekali lagi, kampus hanya tempat untuk belajar – sedangkan materi dan ilmunya kita bisa mencari dimana saja tanpa batas. Di kelas kita temukan panduan – di luar kelas kita yang harus menyempurnakan. Selamat kuliah di kampus yang biasa atau luar biasa, tapi teruslah bangga dan jangan ragu berprestasi. Tanyakan apa prestasimu, jangan tanyakan apa akreditasi kampusmu!

Penulis adalah alumni S1 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Semarang.

Jakarta, 10 Januari 2016

sangpena

Penikmat sastra dan sains. Suka design grafis dan main biola. Menulis di sangpena.com adalah kesibukannya selain sehari-hari bisa ditemukan wara-wiri di seputar Kota Semarang. Ada pertanyaan? Hubungi di halaman kontak ya :)

4 Responses

  1. Eva says:

    Lanjutkan Khalil Aq mendukung mu

  2. Alris says:

    Pekerjaan diperoleh dari kemampuan diri. Percayalah orang sekarang yang diukur adalah kemapuan bukan nama besar dimana dia berkuliah.
    sukse selalu.

  3. Sekolah Kapal Pesiar Yogyakarta says:

    yang jelas harus prestasi dulu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *