Satu Tahun Lulus Kuliah, Apa Kabar Teman-Teman?

 

Cara Mudah Verifikasi Akun PayPal Menggunakan Kartu Debit Jenius BTPNBACA DI SINI

Satu Tahun Lulus Kuliah, Apa Kabar Teman-Teman?

Secara hitungan angka, sebenarnya bulan Maret ini sudah terhitung memasuki usia 1 tahun 5 bulan setelah resmi diwisuda. Berarti selama satu tahun lima bulan pula saya sudah berjibaku dengan dunia nyata yang sama sekali berbeda dengan dunia teori di kampus.

Dalam teori dan harapan, setelah wisuda kita akan segera mendapatkan pekerjaan idaman. Berkantor di kawasan yang elit di bilangan Jakarta Pusat atau Jakarta Selatan yang notabene adalah sentra industri.

 

Cara Mengatur Keuangan Ala Freelancer Baca di 100KATA.com

Atau yang berjiwa cari aman ala birokrat. Selesai kuliah akan mencari dengan getol untuk mendapatkan lowongan CPNS – bahkan sebagian ada yang rela merogoh kocek lebih dalam untuk sekedar memuluskan niatnya menjadi bagian dari abdi negara. Kenapa harus “sekotor” itu untuk gelar abdi negara? (lupakan).

Atau ada juga yang nilainya di atas rata-rata, selesai kuliah tawaran beasiswa datang dari banyak kampus ternama. Type semacam ini biasanya sudah tampak alur karirnya yang dimulai dengan menjadi asisten dosen saat kuliah.

Terakhir, type mayoritas di kampus manapun. Type standar. Tidak terlalu pintar atau menonjol secara akademis. Nilainya di kisaran huruf B dan C, satu dua saja yang A karena beruntung. Rajin kuliah, sering berharap dosen datang terlambat atau kosong. Jika kuliah, dia akan duduk di bangku belakang, sesekali main HP dengan teknik keahlian yang sangat tinggi dan terlatih agar tidak ketahuan. Type ini adalah type yang tidak menjadikan kuliah sebagai beban. Enjoy aja. Selama uang bulanan masih datang, dia masih bahagia, sesederhana itu.

Selama kuliah, saya pernah setidaknya memasuki berbagai type tersebut. Saya pernah rajin sekali di tahun awal-awal kuliah, pernah jadi mahasiswa idealis saat menjadi aktivis kampus, pernah malas juga – terutama di mata kuliah yang dosennya kurang piknik – mengajar teks book, atau yang mengira kami hanya gelas kosong yang dijejali materi tanpa diskusi.

Dosen yang baik sebenarnya menjadi pemantik lahirnya pemimpin masa depan, bukan hanya melahirkan robot industri. Saya terus terang cenderung tertarik lebih dahulu kepada “sosok” yang menjadi pembawa materi, dibandingkan materinya. Setelah pembawa materi tersebut asyik, baru secara perlahan dan mengalir materi itu mudah dipahami. Sayangnya, tidak banyak dosen yang memiliki kualifikasi tersebut.

Ini tentu saja dari sudut pandang saya pribadi yang tidak terlalu pintar secara akademis.

Pekerjaan

Dari sekian banyak teman saya di kampus, jika hari ini saya cek, kebanyakan mereka bekerja tidak sesuai dengan bidangnya selama kuliah. Ada yang menyimpang jauh sekali – termasuk saya yang dari ekonomi ke digital. Bahkan salah satu teman saya yang idealnya jadi sarjana pendidikan matematika kini malah berkarir di Angkasa Pura, di Pulau Dewata sana.

Salah satu senior saya yang notabene sastra inggris malah kini jadi juragan printing di Semarang. Rezeki kita, Allah yang maha mengaturnya. Tugas kita hanya ikhtiar dengan kemampuan yang diberikanNya. Diberi kemampuan seni, yuk cari rezeki lewat seni. Diberi kemampuan otak cerdas, pasti juga ada jalan rezeki dari situ. Tidak ada sedikitpun kemampuan yang sia-sia jika kita mau “obah” (gerak) untuk menjemput rezekiNya.

Pekerjaan, bagi saya bukan hanya soal materi. Materi adalah bonus rezeki atas kemampuan yang kita miliki. Sedangkan pekerjaan atau kesibukan  hanyalah perwujudan jalan yang kita tempuh untuk menjemput rezeki itu sendiri. Yang terpenting, jangan sampai pekerjaan apapun yang kita ambil tidak mendekatkan kita kepada BAHAGIA. Ya, bahagia! Karena sangat penting sekali bahagia dalam bekerja. Korelasi produktivitas dalam bekerja akan sangat dipengaruhi dengan kondisi psikis kita: bahagia atau tidak dalam melakukannya.

Orang yang melakukan pekerjaan dalam kondisi bahagia akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan orang yang hanya bekerja ala kadarnya. Seorang yang hobi design akan sangat tersiksa jika harus bekerja menjadi editor berita. Begitu juga sebaliknya. Maka, penting sekali bekerja sesuai passionmu, bukan hanya sesuai ijazahmu! 🙂

Jodoh

Berhubung ini termasuk bagian “penting” dalam periodisasi setelah wisuda, maka penting kiranya untuk ditulis. Satu tahun setelah wisuda, banyak dari teman-teman seangkatan yang sudah menggenapkan separuh agamanya. Bahkan ada yang sudah punya momongan. Tentu ini juga termasuk pencapaian prestasi.

Butuh lebih dari sekedar keberanian dan bukan hanya ketergesaan sebelum membangun keluarga. Maka, kepada mereka yang berjuang dalam status sebagai keluarga, do’a saya untuk kebahagiaan kalian kawan. Atau untuk mereka yang masih berjuang dalam ikhtiar memantaskan, kalian juga tak kalah luar biasa!

Mari, jangan sakiti kenyamanan silaturahim dengan pertanyaan “kapan menikah”, karena bisa jadi tidak sedikit yang tidak nyaman dengan pertanyaan ini. Apapun alasan belum menikah, mereka lebih paham dibandingkan kita sendiri 🙂

Saat tulisan ini dibuat, masih ada juga beberapa kawan saya yang masih menikmati indah dan nyamannya suasana kampus – masih ikhtiar merampungkan skripsi. Semoga dimudahkan ya 🙂

Semoga di sekuel tulisan berikutnya, kita semua sudah purna. Bersama mendendangkan cerita, nostalgia suka dan duga menjejak langkah dari kampus biru di Semarang sana. Kita semua sebenarnya bukan siapa-siapa tanpa pengakuan orang lain, maka haram menyombongkan apa yang telah orang lain sematkan kepadamu 🙂

Setuju? lain kali kita bahas yang lain ya 🙂

Jakarta, 2 Maret 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *