Sehari Bersama Sahabat AlQur'an - Membangun Peradaban Islam

sangpena.com – Sehari Bersama Sahabat AlQur’an – Membangun Peradaban Islam

Pengalaman adalah guru terbaik, rasa-rasanya peribahasa nan mahsyur ini tidak akan tergantikan maknanya sepanjang zaman. Pengalaman, sekecil apapun – jika maknanya berkesan dan mendalam ia bisa jadi titik tolak perubahan luar biasa bagi seseorang sepanjang hidupnya. Pengalaman semacam ini adalah yang paling berharga – bukan karena kuantitas tapi karena kualitas.

Seseorang bisa jadi “menemukan” jati dirinya karena pertemuan yang singkat saja. Bukankah kita sering menjumpai, orang yang hidup lama dengan berbagai pengalaman tapi tak kunjung belajar? Tapi ada sedikit manusia yang menjumpai pengalaman pendek tapi justru menjadi pencerah sepanjang hidupnya.

Tulisan ini adalah wujud terima kasih saya, untuk pengalaman luar biasa selama satu hari – atau mungkin kurang – bersama kawan-kawan relawan selama berada di Yayasan Sahabat Al Qur’an. Sebelumnya mohon maaf jika selama bersua di sana terdapat tindak-tanduk yang kurang berkenan, semoga tersedia maaf untuk segala kekurangan 🙂


Betapa banyak ilmu dan hikmah yang saya peroleh selama berada di sana. Belajar keikhlasan dari para gurunda: ustadz Hafidz, ustadz Tamam dan ustadz Jamil – semoga kelak Allah kumpulkan kita semua di jannahNya, aamiin. Belajar semangat dari para santri yang dalam usia masih sangat belia memiliki semangat menghafal qur’an yang luar biasa. Rasanya malu, malu sekali – betapa tamparan luar biasa keras untuk kami yang sudah berumur tapi terkadang masih malas-malasan untuk kembali mendekat ke ayat-ayatNya, membaca, menghafal sebuah manual book seorang hamba.

Terkadang dunia ini terlalu melenakan, hampir-hampir kita melupakan bahwa manusia memiliki keterbatasan yang sama sekali tidak pernah kita ketahui: waktu, jatah hidup kita di dunia. Kita mayoritas tidak mau ketinggalan update teknologi tercanggih, terkini – tetapi Al Qur’an yang sudah dijamin KEPASTIANNYA akan sesuai sepanjang zaman malah kita lupakan. Semoga kita benar-benar memperoleh pencerahan dalam kurun waktu yang singkat kemarin 🙂

Ada sebuah kalimat dari Ustadz Hafidz yang begitu menggetarkan, yang kurang lebih saya tangkap maknanya seperti ini: “Untuk membangun sebuah peradaban Islam, kita tidak membutuhkan infrastruktur (fisik) nya. Kita bangun dulu kualitas manusianya (SDM), kita bangun dulu masyarakatnya yang cinta kepada Al Qur’an. Jika masyarakatnya sudah dekat dengan Al Qur’an, generasi mudanya sudah cinta kepada Al Qur’an adakah penghalang yang mampu mencegah kita untuk membangun sebuah infrastruktur?

Sebuah bangunan (pondok pesantren) lebih mudah dibangun daripada membangunkan kecintaan generasi muda kepada Al Qur’an – yang barangkali dibutuhkan banyak bilangan tahun daripada sekedar sebuah bangunan yang selesai dalam hitungan bulan saja. Kita siapkan dulu manusianya – insyaAllah bangunan itu kelak akan dihadirkan dengan kemudahan dari Allah SWT.

Peradaban Islam – islamic civilization – adalah cara hidup Islami sesuai tuntunan Al Qur’an dan As-Sunnah, jika kita tidak mampu memahami isi Al Qur’an, bagaimana peradaban Islam bisa dibangun? Bukankah kita sekarang menjumpai masjid dimana-mana tapi maksiat masih meraja lela? negara dengan mayoritas penduduk Islam tetapi perekonomian dipegang segelintir orang kafir – orang Islam banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Penting sekali untuk membuat pertanyaan besar: WHY? Jawabannya adalah karena ummat sibuk dengan dunianya, lupa tuntunannya, sumbu pendek dan mudah sekali dipicu amarahnya oleh kepentingan media dan penguasa. Kita disibukkan agar tidak sempat untuk bersatu – kita dipecah belah agar tidak ada kekuatan jama’ah untuk melawan kemunkaran.

Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.” Maka para sahabat pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.” Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, “Karena ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”

Membicarakan peradaban tentu kita tidak bisa berlepas diri dari pendidikan. Maka dimanapun sebuah peradaban ia akan bertahan selama ada pendidikan untuk mempertahankan peradaban tersebut. Di negara barat, baik sekuler ataupun komunis memiliki jam pendidikan dengan porsi yang cukup gemuk untuk materi-materi yang ada relevansi terhadap peradaban mereka (sekuler & komunis). Mari coba kita lihat ummat Islam di Indonesia, berapa jam porsi materi pendidikan agama Islam di sekolah umum?

Bagaimana mungkin peradaban Islam bisa dibangun jika mengandalkan sekolah formal yang ada sekarang? Kita saat ini sudah tertinggal dan hidup di bawah hegemoni barat: sains, teknologi modern, perekonomian – semua berkiblat di barat. Ummat kita masih penonton untuk saat ini. Padahal jika kita merujuk kepada sejarah Islam, kita pernah berjaya di masa lampau dan mampu mewarnai peradaban manusia di berbagai benua.

Kapan kejayaan peradaban Islam akan kembali? Apakah kita menunggu bangkitnya khilafah Islamiyah? Jika kita hanya menunggu dan menonton, lalu siapa yang menjadi pemain utama dari bangkitnya khilafah Islamiyah? Datangnya khilafah adalah sebuah kepastian, tapi kita tidak boleh hanya menunggu – kita harus ambil bagian!

Maka, pendidikan Islam dan berbagai kegiatan Islami sudah seharusnya memperoleh dukungan dari kita. Moral, tenaga, materiil dan apa saja yang mampu kita sumbangkan. Mari kita siapkan generasi-generasi Islam tersebut. Kita harus yakin, jika kejayaan Islam tidak hadir di zaman kita – pastikan anak cucu kita siap ambil bagian utama ketika Islam kembali jaya di zaman mereka.

Tulisan ini tentu tidak bermaksud menggurui – hanya mencoba menuangkan pemikiran yang sempat resah setelah diberikan percikan-percikan dari Sahabat Al Qur’an. Semoga menjadi catatan yang bernilai pahala bagi penulis dan memberi manfaat kepada pembaca.

Mohon dikoreksi jika terdapat kesalahan dan kekurangan, insyaAllah akan disambung kembali dalam tulisan yang lain.


Informasi tentang Yayasan Sahabat Al Qur’an bisa dilihat di sini:
Website: sahabatalquran.or.id
Email: info@sahabatalquran.or.id
HP: 085693225517 / 082113939343
Donasi: 0067418697100 (Bank BJB)


Jakarta, 2 Januari 2016 | 22:30
Penuh kesyukuran

LEAVE A REPLY