Surat Cinta Untuk Anakku

Surat Cinta Untuk Anakku

4453
0
Surat Cinta Untuk Anakku

sangpena.com | Sebuah surat yang sederhana, ditulis dengan sederhana tapi penuh cinta. Sebuah rasa sayang yang meluap. Sebuah cinta yang sempurna. Mungkin, kita tidak bisa merangkai kata seindah ini, tapi – semoga – kita kelak akan mencintai anak-anak kita, tanpa batas dan sepanjang hayat.

= = =

Alkemia Malaky Pahdepie, apa kabarmu hari ini?

Ketika aku menuliskan surat ini untukmu, sekitar 12 tahun yang lalu dari tahun yang tercetak di kalender mejamu, ibumu sedang ikut terlelap setelah beberapa saat yang lalu menyusui dan menidurkanmu. Ketika itu, usiamu baru tiga minggu. Mungkin ini terdengar lucu. Tapi, demikianlah, aku menuliskan surat ini untuk kamu baca di masa depan.

Bagaimana sekolahmu? Jika kamu tak suka matematika, tenang saja, jangan terlalu mencemaskannya.

Dalam hidup yang sesungguhnya, setidaknya seperti yang aku jalani sekarang, banyak rumus matematika yang nyatanya tak begitu terpakai di keseharian. Tetapi jika kamu suka matematika, mungkin kamu mewarisi bakat cemerlang ibumu yang dia sendiri sering tak menyadarinya. Jangan menirunya pada bagian itu, kamu perlu mencintai apa yang kamu kerjakan. Dengan begitu, kamu akan bisa menghargai dirimu sendiri. Mungkin itu cara bersyukur yang paling sederhana. Mudah, kan? Hidup yang baik adalah hidup yang disyukuri dengan baik.Ketika kelak kamu membaca surat ini, mungkin itu hari ulang tahunmu. Maafkan jika aku pulang terlambat, mudah-mudahan ketika itu aku sudah menyiapkan sebuah kado untukmu. Apa yang akan kamu sukai 12 tahun dari hari ini? Aku belum bisa membayangkannya. Tetapi aku ingin menjadi ayah yang bisa memahami pikiran dan perasaan anak-anaknya. Kelak, mudah-mudahan kita akan menjadi sahabat yang baik. Mudah-mudahan aku akan bisa menemanimu menemukan hari-hari terbaik dalam hidupmu. Tetapi jika impian itu tak terwujud, mungkin karena alasan-alasan yang kadang tak bisa kita pahami sebagai manusia, tenang dan bersabarlah, doa-doaku akan selalu menemanimu.Apa kabar ibumu? Mudah-mudahan dia baik-baik saja ketika kamu membaca surat ini. Peluk dan cium dia, katakan bahwa aku sangat mencintainya. 12 tahun dari sekarang, aku bisa mengerti jika kulit wajahnya tak kencang lagi, atau jika berat badannya naik 10-20 kg, atau jika dia mencemaskan ‘stretch marks’ di bagian-bagian tertentu dari tubuhnya… Tolong katakana padanya: Tenang saja, aku akan tetap mencintainya. Apapun yang terjadi, dia akan selalu menjadi perempuan terbaik dalam hidupku. Aku ingin kamu menyampaikan rasa terima kasihku kepadanya, untuk semua hal terbaik yang telah dia berikan padaku, yang tak bisa kuhitung jumlahnya (seperti sudah kukatakan padamu sebelumnya soal rumus matematika, tak pernah kutemukan satupun logika matematika yang bisa menghitung kebaikan ibumu untuk hidupku… hidup kita). Sampaikan juga permintaan maafku, untuk hal-hal buruk yang bisa kuceritakan maupun yang tak bisa kuceritakan kepadanya.

Tentu saja aku juga penasaran dengan kakakmu, Kalky. Usianya empat tahun ketika aku menuliskan surat ini. Dia begitu cemburu ketika tahu ibumu mengandungmu. Dia bilang, dia tak mau punya adik! Aku bisa mengerti perasaannya waktu itu, dia tak ingin cintaku dan ibumu kepadanya terbagi karena kehadiranmu. Tetapi kelak dia akan menjadi kakak yang baik untukmu, yang menjaga dan melindungimu; Mungkin seseorang yang terbaik yang akan kamu miliki dalam hidupmu.

Sedang apa dia sekarang—saat kamu membaca surat ini? Jika dia ada di dekatmu, tersenyumlah padanya. Terlalu banyak dari dirinya yang seperti diriku. Terutama karena dia keras kepala dan banyak bicara. Tetapi dia sangat penyayang, seperti ibumu. Maka sayangilah dia seperti kamu menyayangi kami berdua, atau seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Suatu hari kalian mungkin akan bertengkar atau berbeda pendapat, seperti kakak dan adik di manapun di seluruh dunia… Jika saat itu tiba, ingatlah bahwa selalu ada saatnya kamu perlu meminta maaf terlebih dahulu, meski kamu pikir bukan kamu yang salah. Tidak apa-apa, kan? Setiap kamu meminta maaf atau memaafkan seseorang, kamu akan menjadi pemenang, kamu akan selalu mendapatkan sesuatu yang berharga dari dalam dirimu sendiri.

Kemi… Kelak, kamu akan tumbuh dewasa dan kadang-kadang hidup tak seperti yang kamu inginkan. Jika hari-harimu buruk, jangan hilang harapan. Jangan hilang kesabaran. Sebab tak ada batas untuk keduanya. Kadang-kadang, yang perlu kamu lakukan adalah memberi waktu pada kenyataan, agar ia bisa bekerja dengan hukum dan hakikatnya sendiri: Selalu ada matahari selepas hujan, selalu ada pelangi seusai badai. Dan di tengah-tengah segunung persoalan, selalu ada emas yang bisa kamu gali. Jadi, tetaplah terjaga. Tetaplah kuat. Dalam hidup, keteraturan dan ketakberaturan sama sekali tak bertentangan: Keduanya menciptakan keseimbangan dan keindahan-keindahan.

Anakku, tumbuhlah dengan cinta dan kebebasan. Tetapi cinta bukan tentang “bebas untuk” melainkan “bebas dari”. Bukan bebas untuk menjadi (si)apapun, tetapi bebas dari tekanan dan rasa cemas untuk menjadi (si)apapun. Bukan bebas untuk menindas dan melemahkan, tetapi bebas dari penindasan dan kelemahan. Bukan bebas untuk melakukan hal-hal di luar batas, tetapi bebas dari kegagalan untuk bertanggung jawab pada batas-batas yang ditetapkan Tuhan atas dirimu. Bukan bebas untuk melampiaskan nafsu dan memenuhi kepentingan-kepentinganmu sendiri, tetapi bebas dari rasa bersalah karena kegagalanmu membanggakan orang-orang tercinta yang hidupnya harus kamu bahagiakan.

Kelak jangan bercita-cita membelikan rumah untuk istrimu, bercita-citalah untuk tinggal bersama dan hidup berbahagia dengannya, selama-lamanya. Jangan berdoa ingin membelikan kendaraan mewah untuk anak-anakmu, berdoalah agar kalian bisa pergi bersama-sama, bertamasya atau berbelanja dengan bahagia. Jangan bermimpi ingin memberangkatkan kedua orangtuamu naik haji, bekerjalah sungguh-sungguh dan mari berangkat bersama-sama untuk merayakan cinta dengan bersujud di rumah Tuhan sebagai keluarga. Jangan hanya berharap masuk surga agar nanti bisa berbahagia: Masukilah surgamu hari ini dengan bersyukur dan berbahagia.

Anakku, aku akan segera mengakhiri surat ini. Aku memejamkan mataku beberapa saat, membayangkan seperti apa kamu nanti. Mungkin kamu sedang tersenyum ketika membaca suratku ini. Senyummu, matamu, rambutmu yang kecokelatan, yang kamu warisi dari ibumu, dan dia mewarisinya dari ibunya… Caramu memerhatikanku atau caramu mengacuhkanku saat aku bercerita, akan selalu mengingatkanku pada ibumu. Caramu tertawa pada lelucon-leluconku yang sebenarnya tidak lucu, caramu menertawakanku, seperti ibumu. Aku tahu kamu akan mewarisinya: Ya, caramu memalingkan wajah saat sedang marah. Atau caramu mencium pipiku. Aku akan menyukai semuanya dari dirimu, seperti aku menyukai semua hal-hal mengagumkan dari ibumu.

Anakku, demi 23 kromosom yang kamu warisi dariku dan 23 kromosom lainnya yang kamu warisi dari ibumu, kamu telah mewarisi DNA cinta kami berdua. Maka aku berjanji akan mencintaimu apa adanya. Aku akan mencintaimu dengan segala apapun yang kumiliki dalam hidupku. Mudah-mudahan kamu juga bisa menerimaku apa adanya, mencintaiku dengan segenap kasih sayang yang kamu miliki dalam hidupmu… Sebab dengan perasaan semacam itulah keluarga kita dibangun. Aku, ibumu dan kakakmu sudah memulainya lebih dulu, membangun sebuah rumah yang di sana kita bisa tinggal bersama-sama dengan penuh cinta dan kebahagiaan.

Tetaplah mengagumkan!

Melbourne, 8 Desember 2014

FAHD PAHDEPIE

* izin repost kang Fahd 🙂 semoga bermanfaat untuk para pembaca. Boleh dishare 😉

LEAVE A REPLY