Yang Kita Cela dan Surga

Yang Kita Cela dan Surga

604
1
Yang kita cela dan surga

sangpena.com – Tulisan oleh Ust. Salim A. Fillah – “Boleh jadi ada nama-nama yang kita cela pribadinya dan kita lemahkan riwayat haditsnya”, ujar Yahya ibn Ma’in, sahabat Imam Ahmad yang menjadi imam dalam ilmu penilaian rawi, jarh wat ta’dil, “Tapi mereka memasuki surga Allah ribuan tahun mendahului kita.”

Pernah beliau mempertanyakan nasab Quraisy Imam Asy Syafi’i dan menimpakan tuduhan berat kepada beliau sebagai seorang Syi’ah Rafidhah. Sang Imam yang santun hati tak suka membalas hal ini dan memilih mensyairkan isi hati, “Jika mencintai keluarga Muhammad serta merta disebut Rafidhi, saksikanlah bahwa aku seorang Rafidhi. Dan jika mencintai Abu Bakr dan ‘Umar disebut Nashibi, saksikan pula bahwa aku seorang Nashibi.”

Imam Ahmad lah yang kemudian mendatangi Yahya dan menghardik keras, “Dari mana kamu menyimpulkan bahwa guruku Asy Syafi’i seorang Rafidhah?”

“Aku sudah membaca risalahnya tentang bughat, pemberontakan”, jawab Yahya, “Demi Allah di situ kudapati dia begitu banyak berhujjah dengan perkataan ‘Ali!”

“Subhanallah”, sahut Imam Ahmad. “Menurutmu dengan ucapan siapa lagi dia akan berhujjah? Bukankah satu-satunya Khulafaur Rasyidin yang menghadapi bughat adalah Sayyidina ‘Ali?”

Imam Yahya ibn Ma’in pun terdiam.

Ketika di kali lain Yahya menegur Imam Ahmad karena menuntun baghal Imam Asy Syafi’i dari gerbang kota Baghdad hingga rumahnya sebagai perendahan ilmu hadits, Imam Ahmad menjawab, “Katakan pada Yahya. Jika dia ingin meraih kemuliaan yang kudapatkan ini, marilah ke sini. Aku tuntun baghal Asy Syafi’i di sebelah kiri, biar dia menuntun di sebelah kanannya lagi.”

Waktu berlalu dan Asy Syafi’i wafat lalu fitnah khalqil Quran oleh Mu’tazilah terjadi sejak masa Al Makmun. Hanya Imam Ahmad berhasil teguh bersama kebenaran meski tercambuk petang dan pagi sementara ‘Ulama-‘ulama lain termasuk Imam Yahya ibn Ma’in menyerah dan mengatakan kalimat munkar dalam paksaan.

Kelak ketika ditanya lagi tentang Imam Asy Syafi’i, Yahya ibn Ma’in akan menitikkan airmata dan berkata, “Sudahlah biarkan kami.. Asy Syafi’i adalah orang yang seandainya dusta itu perkara yang dihalalkan, dia tetap akan jujur karena amat menjaga kehormatan.”

Di manakah kita di sisi kemuliaan para ‘ulama? Seberapa peduli kita tentang keselamatan diri ini di sisi Allah dibanding girang hati kita mengatakan sesama salah dan kita yang benar?

“Wahai Syaikh”, ujar seorang pemuda, “Manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama.”

“Subhaanallah, keduanya baik”, ujar sang Syaikh sambil tersenyum.

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakij taat kepadaNya.”

“Jadi siapa yang lebih buruk?”, desak si pemuda.

Airmata mengalir di pipi sang Syaikh. “Kita Anakku”, ujar beliau. “Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri.” Beliau terisak-isak. “Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain.”

1 COMMENT

LEAVE A REPLY